Tanaman
Karet
Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan
tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman tahunan ini dapat
disadap getah karetnya pertama kali pada umur tahun ke-5. Dari getah tanaman
karet (lateks) tersebut bisa diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan
(kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri
karet. Kayu tanaman karet, bila kebun karetnya hendak diremajakan, juga dapat
digunakan untuk bahan bangunan, misalnya untuk membuat rumah, furniture dan
lain-lain.
Tanaman karet termasuk dalam famili
Euphorbiacea, disebut dengan nama lain rambung, getah, gota, kejai ataupun
havea. Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut:
Devisio :
Spermatophyta
Subdevisio :
Angiospermae
Klas :
Dicotyledonae
Ordo :
Euphorbiales
Famili :
Euphorbiaceae
Genus :
Havea
Spesies :
Havea brasiliensis
Morfologi
Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan
pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa
mencapai 15 – 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki
percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah
tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung
getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun karet berwarna hijau. Apabila akan
rontok berubah warna menjadi kuning atau merah. Biasanya tanaman karet
mempunyai “jadwal“ kerontokan daun pada setiap musim kemarau. Di musim rontok
ini kebun karet menjadi indah karena daun – daun karet berubah warna dan jatuh
berguguran. Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar
tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar.
Produksi
dan Ekspor Karet di Indonesia
Karet dikenal karena kualitas elastisnya,
adalah sebuah komoditi yang digunakan di banyak produk dan peralatan di seluruh
dunia (mulai dari produk-produk industri sampai rumah tangga). Ada dua tipe
karet yang dikenal luas, karet alam dan karet sintetis. Karet alam dibuat dari
getah (lateks) dari pohon karet, sementara tipe sintetis dibuat dari minyak
mentah. Kedua tipe ini dapat saling menggantikan dan karenanya mempengaruhi
permintaan masing-masing komoditi; ketika harga minyak mentah naik, permintaan
untuk karet alam akan meningkat. Namun ketika gangguan suplai karet alam
membuat harganya naik, maka pasar cenderung beralih ke karet sintetis. Bagian
ini mendiskusikan sektor karet alam Indonesia. Indonesia adalah salah satu
produsen dan eksportir karet alam terbesar.
Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang
konstan (26-32 derajat Celsius) dan lingkungan yang lembab supaya dapat
berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara tempat sebagian
besar karet dunia diproduksi. Sekitar 70% dari produksi karet global berasal
dari Thailand, Indonesia dan Malaysia.
Memerlukan waktu tujuh tahun untuk sebatang
pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat
berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini,
penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.
Sebagai
produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting
untuk pasar global. Sejak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah
mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet
negara ini - kira-kira 80% - diproduksi oleh para petani kecil. Oleh karena
itu, perkebunan Pemerintah dan swasta memiliki peran yang kecil dalam industri
karet domestik. Kebanyakan produksi karet Indonesia berasal dari
provinsi-provinsi berikut: (1) Sumatra Selatan, (2) Sumatra Utara, (3) Riau,
(4) Jambi dan (5) Kalimantan Barat.
Total luas perkebunan karet Indonesia
telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. Di tahun 2015,
perkebunan karet di negara ini mencapai luas total 3,65 juta hektar. Karena
prospek industri karet positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan
komoditi seperti kakao, kopi dan teh, menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet. Jumlah perkebunan karet
milik petani kecil telah meningkat, sementara perkebunan Pemerintah dan swasta
telah agak berkurang, kemungkinan karena perpindahan fokus ke kelapa sawit.
Sekitar 85% dari produksi karet Indonesia diekspor.
Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia
lain, diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang
paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS),
Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil. Konsumsi karet
domestik kebanyakan diserap oleh industri-industri manufaktur Indonesia
(terutama sektor otomotif).
Produksi & Ekspor Karet Alam Indonesia:
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
2014
|
2016
|
|
Produksi
(Juta ton)
|
2.75
|
2.44
|
2.73
|
3.09
|
3.04
|
3.20
|
3.18
|
3.11
|
3.16
|
Ekspor
(Juta ton)
|
2.30
|
1.99
|
2.20
|
2.55
|
2.80
|
2.70
|
2.60
|
2.30
|
Dibandingkan
dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki
level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta
bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan
dengan kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga
mengurangi hasil panen. Sementara Thailand memproduksi 1.800 kilogram (kg)
karet per hektar per tahun, Indonesia hanya berhasil memproduksi 1.080 kg/ha.
Baik Vietnam (1.720 kg/ha) maupun Malaysia (1.510 kg/ha) memiliki produktivitas
karet yang lebih tinggi.
Industri
hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Saat ini, negara ini
tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas
pengolahan-pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang
berkembang baik. Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa
Indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya. Kendati begitu,
di beberapa tahun terakhir tampak ada perubahan (walaupun lambat) karena jumlah
ekspor sedikit menurun akibat meningkatnya konsumsi domestik. Sekitar setengah
dari karet alam yang diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur
ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, ban vulkanisir,
sarung tangan medis dan alat-alat lain.
Kesimpulan
Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan tanaman
perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Dari getah tanaman karet (lateks)
tersebut bisa diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau
karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet.
Tanaman
karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang
cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Memerlukan waktu tujuh
tahun untuk sebatang pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon
karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun.
Kebanyakan produksi karet Indonesia berasal
dari provinsi-provinsi berikut: (1) Sumatra Selatan, (2) Sumatra Utara, (3)
Riau, (4) Jambi dan (5) Kalimantan Barat. Dibandingkan dengan negara-negara
kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas
per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia
pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan
kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi
hasil panen.
Saat ini, negara ini tergantung pada impor
produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas pengolahan-pengolahan
domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik Rendahnya
konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar
85% dari hasil produksi karetnya.
Daftar
Pustaka
https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/karet/item185? (Diakses pada
tanggal 11 Juni 2017)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/25205/Chapter%20II.pdf;jsessionid=301961A6D51B1C13C1A6F695FE347529?sequence=4 (Diakses pada
tanggal 11 Juni 2017)
http://digilib.unila.ac.id/3626/14/BAB%20II.pdf
(Diakses pada tanggal 11 Juni 2017)

Steve D's TIN TIN TIN TIN TIN TIN T TATON - Teton - The
BalasHapusTIAN TIN titanium price per ounce T TIN TIN TOTTON - The tin TIN TIN TOTTON has been redesigned with a titanium scrap price new, titanium quartz classic TINT patterning system designed to ensure titanium rods you have a $15.95 · titanium exhaust In stock