Social Icons

Kamis, 25 Mei 2017

Kunjungan lapangan Balitri

"Laporan Kunjungan Lapang ke Balitri (Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar)"

Sejarah
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) terletak di Jalan Raya Pakuwon Km 2 Parungkuda, Sukabumi, dibentuk berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 65/Permentan /OT.140/10/2011 tanggal 12 Oktober 2011 yang merupakan transformasi dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) karena adanya perubahan mandat komoditas. Saat ini, Balittri mempunyai mandat melaksanakan penelitian tanaman industri dan penyegar (karet, kopi, kakao, teh, makadamia, melinjo, tamarin, kola, iles-iles, dan kemiri sayur). Sejarah perjalanan Balittri adalah sebagai berikut:

1975
:
Afdeling Pakuwon PTP XI
1976
:
Kebun Percobaan Pakuwon, Lembaga  Penelitian Tanaman Industri (LPTI)
1980
:
Sub Balai Penelitian Tanaman Industri Pakuwon
1984
:
Sub Balai Penelitian Kelapa Pakuwon, Departemen Pertanian
1994
:
Loka Penelitian Pola Tanam Kelapa, Departemen Pertanian
1998
:
Loka Penelitian Pola Tanam Kelapa, Departemen Kehutanan dan Perkebunan
2000
:
Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan
2006
:
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri)
2011
:
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri)

Visi dan Misi
VISI
Menjadi institusi penelitian berkelas dunia yang menghasilkan inovasi teknologi unggul tanaman industri dan penyegar untuk mewujudkan perkebunan moderen berbasis sumber daya lokal.

MISI
1.      Menghasilkan inovasi teknologi unggulan tanaman industri dan penyegar;
2.      Meningkatkan kualitas dan optimalisasi sumberdaya penelitian tanaman industri dan penyegar;
3.      Mengembangkan dan meningkatkan jaringan kerjasama iptek di tingkat nasional dan internasional.

Tugas dan Fungsi
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar mempunyai tugas melaksanakan penelitian tanaman industri dan penyegar (karet, kopi, kakao, teh, makadamia, melinjo, tamarin, kola, iles-iles, dan kemiri sayur). Dalam melaksanakan tugasnya, Balittri menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan penelitian genetika, pemuliaan, perbenihan, dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman industri dan penyegar;
2.      Pelaksanaan penelitian morfologi, ekofisiologi, entomologi dan fitopatologi tanaman industri dan penyegar;
3.      Pelaksanaan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman industri dan penyegar;
4.      Pelaksanaan penelitian penanganan hasil tanaman industri dan penyegar;
5.      Pemberian pelayanan teknis penelitian tanaman industri dan penyegar;
6. Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman industri dan penyegar;
7.      Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Hasil dan Pembahasan

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI) terletak di Jalan Raya Pakuwon Km. 2 Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat Indonesia. Kunjungan lapang ini dilakukan pada hari Kamis, 27 April 2017.
Balittri mengembangkan benih berkualitas dan bersertifikat, dapat diperoleh melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balittri. UPBS Balittri terutama menyediakan benih karet, kopi, dan kakao. Benih-benih tersebut merupakan benih bermutu tinggi karena  diperoleh dari kebun induk yang bersertifikat. Kebun induk yang dimiliki oleh UPBS Balittri adalah sebagai berikut:
1.      Kebun induk kakao hibrida lindak menghasilkan benih 11 klon unggul kakao yaitu Sulawesi 1, TSH-858, Sca-12, Pa-300,Pa 150, GC-7, ICS-60, IMC-76, THR, UIT-1 dan IRC-70. Luas kebun 2.0 ha di KP. Pakuwon
2.      Kebun entres karet klon PB 260 seluas 1.0 ha di KP Pakuwon
3.      Kebun entres kopi robusta seluas 1 ha di KP Pakuwon  dan 1 ha di KP. Cahaya Negeri.
4.      Kebun entres  teh di KP. Gunung Putri seluas 0,5 ha

Teknis pelaksanaan kunjungan ke Balittri, dosen dan mahasiswa mendengarkan presentasi dari pihak Balttri. Presentasi yang disampaikan berisi tentang sejarah berdirinya Balittri, , Tugas & Fungsi, Visi, Misi, & Tujuan, Struktur Organisasi, Jenis Kegiatan & Layanan, Gedung beserta alat dan mesin yang dimiliki untuk menunjang teknologi yang ada di Balittri tersebut. Acara presentasi ditutup dengan sesi tanya jawab. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke ke kawasan Agro Widyawisata Ilmiah (AWwI) yang merupakan kawasan yang memiliki beragam varietas tanaman yang di kembangkan oleh pengelola Balittri.


Fasilitas Balitri Yang Di Kunjungi

1.         Tempat pengolahan tanaman Serai wangi.





2.         Kebun Budidaya tanaman






3.         Tempat Pengolahan Kakao



   




 




4.         Tempat Pengolahan Kopi


 


 5.         Tempat Pengolahan Biodiesel







 




Daftar Pustaka

Senin, 15 Mei 2017

Jenis- Jenis Kakao

Tanaman Kakao
Merupakan komoditas perkebunan penghasil biji dan bubuk coklat terbesar ketiga (3) di dunia. tanaman tergolong familiy Strerculiaceae yang berasal dari hutan-hutan Amerika Selatan. Tanaman ini pertama kali dibudidayakan oleh bangsa Indian Aztec.
Tanaman yang bisa dimanfaatkan hasil buahnya, setelah memasuki umur tanam 4-5 tahun tahapan budidaya kakao, berbentuk pohon dengan ketinggian bisa mencapai 10 meter ini, merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan dengan penamaan ilmiah Theobroma cacao.L
Jenis Jenis Tanaman kakao
1.         Kakao Criollo
·         Criollo termasuk jenis yang menghasilkan biji kakao dengan mutu terbaik sebagai ;Kakao Mulia,Fine flovour cocoa,Choiced cocoa dan Edel cocoa
·         Criollo Memiliki Ciri-Ciri:
·         Pertumbuhan tanaman kurang kuat dan produksinya relatif rendah
·         Tunas-tunas muda umumnya berbulu
·         Masa berbuah lambat
·         Agak peka terhadap serangan hama dan penyakit
·         Kulit buah tipis dan mudah diiris
·         Terdapat 10 alur yang letaknya berselang-seling, dimana 5 alur agak dalam dan 5 alur dangkal
·         Ujung buah umunya berbentuk tumpul, sedikit bengkok, dan tidak memiliki bottle neck
·         Tiap buah berisi 30-40 biji, yang bentuknya agak bulat sampai bulai
·         Endospermaenya berawrna putih
·         Warna buah muda umunya merah dan bila sudah masak menjadi orange
·         Berjumlah lebih kurang 7% dari produksi kakao dunia dan merupakan jenis edel yang dihasilkan di Equador, Venezuela, Trinidad, Grenada, Jamaika, Srilangka, Indonesia dan Samoa


2.         Kakao Forestero
Forastero umumnya termasuk kakao bermutu sedang atau Bulk cocoa atau lebih dikenal dengan Ordinary cocoa.
Forastero Memiliki Ciri-Ciri 
·         Pertumbuhan tanaman kuat dan produksinya tinggi
·         Masa berbuah lebih awal
·         Umunya diperbanyak dengan seamaian hibrida
·         Relatif lebih tahan serangan hama dan penyakit
·         Kulit buah agak keras tetapi permukaanya halus
·         Alur-alur pada kulit buah agak dalam
·         Memiliki bottle neck dan ada pula yang tidak memiliki
·         Endospermaenya berwarna ungu-tua dan berbentuk gepeng
·         Kulit buah berawarna hijau terutama yang berasal dari Amazona
·         Jumlahnya sekitar 93% dari produksi kakao dunia dan merupakan jenis bulk yang dihasilkan Afrika Barat, Brazil dan Dominika


3.         Kakao Trinatario
Merupakan hybrida dari jenis kakao Criollo dan Forastero secara alami sehingga jenis kakao ini sangat heterogen.
Trinitario  memiliki ciri-ciri :
·         Kakao jenis ini menghasilkan biji kakao Fine flavour cocoa dan ada yang termasuk dalam bulk cocoa.
·         Memiliki pertumbuhan yang cepat.
·         Fermentasi singkat.
·         Produktivitas tinggi.
·         Tahan penyakit Vaskular Streak Dieback.
·         Bentuknya bermacam-macam dengan buah berwarna hijau dan merah.
·         Biji kakaonya juga bermacam-macam dengan kotiledon berwarna unggu muda sampai unggu tua pada saat basah.



Daftar Pustaka

jenis- Jenis Kelapa Sawit

Jenis- Jenis Kelapa Sawit

Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal. Varietasvarietas itu dapat dibedakan berdasarkan tebal tempurung dan daging buah, atau berdasarkan warna kulit buahnya. Selain varietas-varietas tersebut, ternyata dikenal juga beberapa varietas unggul yang mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lain.
1.            Pembagian varietas berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah
Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah, dikenal lima varietas kelapa sawit, yaitu :
a.            Dura
Tempurung cukup tebal antara 2 – 8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar tempurung. Daging buah relatif tipis denan persentase daging buah terhadap buah bervariasi antara 35 – 50%. Kernel (daging biji) biasanya besar dengan kandungan minyak yang rendah. Dari empat pohon induk yang tumbuh di Kebun Raya Bogor, varietas ini kemudian menyebar ke tempat lain, antara lain ke Negara Timur Jauh. Dalam persilangan, varietas Dura dipakai sebagai pohon induk betina.
b.            Pisifera
Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hampir tidak ada, tetapi daging buahnya tebal. Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi, sedangkan daging biji sangat tipis. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini. Oleh sebab itu, dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Penyerbukan silang antara Pisifera dengan Dura akan menghasilkan varietas Tenera
c.             Tenera
Varietas ini mempunyai sifat-sifat yang berasal dari kedua induknya, yaitu Dura dan Pisifera. Varietas inilah yang banyak ditanam di perkebunan-perkebunan pada saat ini. Tempurung sudah menipis, ketebalannya berkisar antara 0,5 – 4 mm, dan terdapat lingkaran serabut di sekelilingnya. Persentase daging buah terhadap buah tinggi, antara 60 – 96%. Tandan buah yang dihasilkan oleh Tenera lebih banyak daripada Dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil.
d.            Macro carya
Tempurung sangat tebal, sekitar 5 mm, sedang daging buahnya tipis sekali.
e.            Diwikka - wakka
Varietas ini mempunyai ciri khas dengan adanya dua lapisan daging buah. Diwikka – wakka dapat dibedakan menjadi diwikka – wakkadura, diwikka – wakkapisifera, dan diwikka – wakkatenera. Dua varietas kelapa sawit yang disebutkan terakhir ini jarang dijumpai dan kurang begitu dikenal di Indonesia.
Perbedaan ketebalan daging buah kelapa sawit menyebabkan perbedaan persentase atau rendemen minyak yang dikandungnya. Rendemen minyak tertinggi terdapat pada varietas Tenera yaitu sekitar 22 – 24%, sedangkan pada varietas Dura antara 16 – 18%. Jenis kelapa sawit yang diusahakan tentu saja yang mengandung rendemen minyak tinggi sebab minyak sawit merupakan hasil olahan yang utama.
Sehingga tidak mengherankan jika lebih banyak perkebunan yang menanam kelapa sawit dan varietas Tenera.

2.            Pembagian varietas berdasarkan warna kulit buah
Ada 3 varietas kelapa sawit yang terkenal berdasarkan perbedaan warna kulitnya. Varietas-varietas tersebut adalah :
a.            Nigrescens
Buah berwarna ungu sampai hitam pada waktu muda dan berubah menjadi jingga kehitam-hitaman pada waktu masak. Varietas ini banyak ditanam di perkebunan.
b.            Virescens
Pada waktu muda buahnya berwarna hijau dan ketika masak warna buah berubah menjadi jingga kemerahan, tetapi ujungnya tetap kehijauan. Varietas ini jarang dijumpai di lapangan.
c.             Albescens
Pada waktu muda buah berwarna keputih-putihan, sedangkan setelah masak menjadi kekuning-kuningan dan ujungnya berwarna ungu kehitaman. Varietas ini juga jarang dijumpai.


Dafar Pustaka

Senin, 01 Mei 2017

Kelapa Sawit

TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

‘PENGOLAHAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT’


Disusun Oleh:
Nama                  : Dewi Zaenati
NPM                  : 143112500150022

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017


Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dari famili Arecaceae merupakan salah satu sumber minyak nabati yang dapat diandalkan dan merupakan komoditi perkebunan. Potensi kelapa sawit di Indonesia cukup besar. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa  potensi kelapa sawit berdasarkan luas perkebunannya mencapai 8 385 394 hektar dengan total produksi minyak mencapai 21 958 120 ton. Untuk tahun 2012 ini diperkirakan luas areal kelapa sawit akan mencapai 9 271 039 dengan total produksi minyak 23 633 412 ton (Direktorat Jendral Perkebunan 2011).
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2 - 3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5 - 6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya. Buah akan berubah menjadi merah jingga ketika masak. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada daging buah telah maksimal. Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai tandannya. Buah yang jatuh tersebut disebut membrondol (Fauzi et al. 2008)
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu agar dapat memotong buah pada saat yang tepat di masa panen. Kriteria matang panen ditentukan ketika kandungan minyak maksimal dan kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal. Pada saat ini, kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah brondolan, yaitu tanaman berumur kurang dari 10 tahun dengan jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman berumur lebih dari 10 tahun dengan jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat 2
1.         Pemanenan Kelapa Sawit
1.2.      Panen
Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit. Selain bahan tanaman dan pemeliharaan tanaman, panen juga merupakan faktor penting dalam pencapaian produksi. Panen adalah kegiatan pemotongan tandan buah dari pohon hingga pengangkutan ke PKS (Fadli et al. 2006). Menurut Fauzi et al. (2012), pelaksanaan panen tidak secara sembarang, perlu memperhatikan beberapa kriteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas minyak yang baik. Menurut Fadli et al. (2006), keberhasilan panen didukung oleh pengetahuan pemanen seperti: persiapan panen, kriteria matang panen, cara panen, rotasi panen dan sistem panen serta sarana panen. Keseluruhan faktor ini saling bersinergi yang tak terpisahkan satu dengan yang lain.
1.3.      Persiapan panen
Menurut Pahan (2013), persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam mempersiapkan pelaksanaan panen adalah persiapan kondisi areal, penyediaan tenaga panen, pembagian seksi atau kapveld panen dan penyediaan alat-alat kerja. Kriteria matang panen. Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar memotong buah pada saat yang tepat. Parameter yang digunakan dalam menentukan kriteria matang panen adalah perubahan warna dan brondolan yang lepas dari tandan. Kriteria umum yang banyak digunakan adalah brondolan yang lepas dari tandan, yaitu 2 brondolan kg-1 untuk tandan yang memiliki berat >10 kg dan 1 brondolan kg-1 untuk tandan yang memiliki berat ≤10 kg (Fadli et al. 2006). Menurut Lubis (2008), tingkat kematangan tandan buah atau dikenal sebagai fraksi ditentukan berdasarkan kriteria jumlah brondolan lepas.
1.4.      Cara panen
Ada tiga cara panen berdasarkan tinggi tanaman. Cara panen jongkok digunakan untuk pohon setinggi 2-5 m dengan alat dodos. Cara panen berdiri digunakan untuk pohon setinggi 5-10 m dengan alat kampak siam. Cara panen egrek digunakan untuk pohon lebih tinggi dari 10 m dengan alat egrek (Sunarko 2007). Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan mati. Tandan buah yang matang dipotong dan tangkainya dipotong rapat ke tandan dengan panjang maksimal 2 cm. Brondolan dikumpulkan terpisah dari tandan. Brondolan harus bersih dan tidak tercampur dengan tanah atau kotoran lain. TBS dan brondolan dikumpulkan di TPH (Fauzi et al. 2012).
1.5.      Rotasi dan sistem ancak panen
Rotasi panen adalah lamanya waktu yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya pada ancak panen yang sama. Rotasi panen yang sesuai dengan perkembangan buah adalah 7 hari (Fadli et al. 2006). Menurut Fauzi et al. (2012), ada dua sistem ancak panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap. Sistem giring adalah perpindahan pemanen dari satu ancak ke ancak berikutnya apabila suatu ancak panen telah selesai dipanen. Sistem tetap adalah pemanen diberikan ancak dengan luasan tertentu dan tidak berpindah-pindah
1.6.      Sarana panen
Sarana panen yang memadai akan membantu memperlancar kegiatan panen. TBS yang telah dipanen harus segera diangkut ke PKS untuk diolah, maksimal 8 jam setelah panen harus segera diolah. Buah yang tidak segera diolah akan mengalami kerusakan. Pemilihan sarana panen berupa alat angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan. Alat angkut yang dapat digunakan diantaranya lori, traktor gandengan atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkut lain (Fauzi et al. 2012). Selain alat angkut buah ke PKS, alatalat lainnya dalam pemanenan seperti: dodos, kampak siam, egrek dan angkong harus tersedia dengan kualitas yang baik demi kelancaran proses pemanenan.
2.         Pasca Panen Dan Standar Produksi Kelapa Sawit
Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit yang diperoleh dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain yang tidak kalah pentingnya adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga diperoleh dengan cara ekstraksi.
Pertama tandan buah diletakkan di piringan. Buah yang lepas disatukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi. Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen.
Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin pelepas buah, dilumatkan di dalam digester, dipres dengan mesin untuk mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti (kernel) terpisah dari cangkangnya. Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a.         Perebusan (sterilisasi) TBS
TBS yang masuk ke dalam pabrik selanjutnya direbus di dalam sterilizer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130 derajat C selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah:
·         Menonaktifkan enzim Lipase yang dapat menstimulir pembentukan free fatty acid
·         Membekukan protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari air
·         Mempermudah perontokan buah
·         Melunakkan buah sehingga mudah diekstraksi
b.           Perontokan Buah
Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dari tandannya dengan menggunakan mesin thresher. Tandan kosong disalurkan ke tempat pembakaran atau digunakan sebagai bahan pupuk organik. Sedangkan buah yang telah dirontokkan selanjutnya dibawa ke mesin pelumatan. Selama proses perontokan buah, minyak dan kernel yang terbuang sekitar 0.03%.
2.1.      Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO
            Buah yang terpisah akan jatuh melalui kisi-kisi dan ditampung oleh Fruit elevator dan dibawa dengan Distributing Conveyor untuk didistribusikan keunit-unit Digester.

Di dalam digester buah diaduk dan dilumat untuk memudahkan daging buah terpisah dari biji. Digester terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang di dalamnya dipasang pisau-pisau pengaduk sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada pros dan digerakkan oleh motor listrik. Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas 90-95 C yang diberikan dengan cara menginjeksikan uap 3 kg/cm2 langsung atau melalui mantel. Proses pengadukan/ pelumatan berlangsung selama 30 menit. Setelah massa buah dari proses pengadukan selesai kemudian dimasukan ke dalam alat pengepresan (screw press).
            Pengepresan berfungsi untuk memisahkan minyak kasar (crude oil) dari daging buah (pericarp). Massa yang keluar dari digester diperas dalam screw press pada tekanan 50-60 bar dengan menggunakan air pembilas screw press suhu 90-95 C sebanyak 7 % TBS (maks) dengan hasil minyak kasar (crude oil) yang viscositasnya tinggi. Dari pengepresan tersebut akan diperoleh minyak kasar dan ampas serta biji.
Minyak kasar (crude oil) yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan Vibrating screen. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan beberapa bahan asing seperti pasir, serabut dan bahan-bahan lain yang masih mengandung minyak dan dapat dikembalikan ke digester. Vibrating screen terdiri dari 2 tingkat saringan dengan luas permukaan 2 m2 . Tingkat atas memakai saringan ukuran 20 mesh, sedangkan tingkat bawah memakai saringan 40 mesh.
Minyak yang telah disaring kemudian ditampung kedalam Crude Oil Tank (COT). Di dalam COT suhu dipertahankan 90-95°C agar kualitas minyak yang terbentuk tetap baik.
Tahap selanjutnya minyak dimasukkan kedalam Tanki Klarifikasi (Clarifier Tank). prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran  minyak kasar dapat terpisah dari air. Pada tahapan ini dihasilkan dua jenis bahan yaitu Crude oil dan Slude . Minyak kasar yang dihasilkan kemudian ditampung sementara kedalam Oil Tank. Di dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75-80°C) dengan tujuan untuk mengurangi kadar air.
Minyak kemudian dimurnikan dalam Purifier, Di dalam purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air yang terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl), sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang melekat pada dinding di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.

           Slude yang dihasilkan dari Clarifier tank kemudian di alirkan ke dalam Decanter. Di dalam alat ini terjadi pemisahan antara Light phase, Heavy phase dan Solid. Light phase yang dihasilkan kemudian akan di alirkan kembali ke dalam crude oil tank sedangkan Heavy phase akan di tampung dalam bak penampungan (Fat Pit). Solid atau padatan yang dihasilkan akan diolah menjadi pupuk atau bahan penimbun.
Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke bawah dan kemudian dialirkan ke storage tank.
Crude Palm Oil yang dihasilkan kemudian dialirkan ke dalam Storage tank (tangki timbun). Suhu simpan dalam Storage Tank dipertahankan sntara 45-55°C. hal ini bertujuan agar kualitas CPO yang dihasilkan tetap terjamin sampai tiba waktunya pengiriman.
2.2.      Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi Pko
Palm kernel Oil (PKO) adalah minyak yang dihasilkan dari inti sawit. Proses awalnya sama seperti pengolahan kelapa sawit menjadi CPO. Pada pengolahan kelapa sawit menjadi PKO setelah proses pengepresan maka terjadi pemisahan antara minyak sawit dengan kernel, sabut dan ampasnya.
Biji yang masih bercampur dengan Ampas dan serabut kemudian diangkut menggunakan Cake breaker conveyor yang dipanaskan dengan uap air agar sebagian kandungan air dapat diperkecil, sehingga Press Cake terurai dan memudahkan proses pemisahan menuju depericarper. Pada Depericaper terjadi proses pemisahan fibre dan biji. Pemisahan terjadi akibat perbedaaan berat dan gaya isap blower. Biji tertampung pada Nut Silo yang dialiri dengan udara panas antara 60 – 80°C selama 18- 24 jam agar kadar air turun sekitar 21% menjadi4%.
Sebelum biji masuk ke dalam Nut Craker terlebih dahulu diproses di dalam Nut Grading Drum untuk dapat dipisahkan ukuran besar kecilnya biji yang disesuaikan dengan fraksi yang telah ditentukan. Nut kemudian dialirkan ke Nut Craker sebagai alat pemecah. Masa biji pecah dimasukkan dalam Dry Seperator (Proses pemisahan debu dan cangkang halus) untuk memisahkan cangkang halus, biji utuh dengan cangkang/inti. Masa cangkang bercampur inti dialirkan masuk ke dalam Hydro Cyclone untuk memisahkan antara inti dengan cangkang dengan menggunakan prinsip perbedaan massa. Cara lain untuk memisahkan inti dengan cangkang adalah dengan menggunakan Hydro clay bath yaitu pemisahan dengan memanfaatkan lumpur atau tanah liat. Cangkang yang terpisah kemudian digunakan sebagai bahan bakar boiler.

Inti kemudian dialirkan masuk ke dalam Kernel Drier untuk proses pengeringan sampai kadar airnya mencapai 7 % dengan tingkat pengeringan 50°C, 60°C dan 70°C dalam waktu 14-16jam. Selanjutnya guna memisahkan kotoran, maka dialirkan melalui Winnowing Kernel (Kernel Storage), sebelum diangkut dengan truk ke pabrik pemproses berikutnya.
3.         Syarat dan mitu Minyak Kelapa Sawit
Mutu minyak kelapa sawit yang baik, umumnya memiliki:
a.       Kadar air  < 0,1%
b.      Kadar kotoran  < 0,01%
c.       Kandungan asam lemak bebas, serendah mungkin  yaitu < 2%
d.      Bilangan peroksida < 2
e.       Bebas dari warna merah & kuning, tidak berwarna hijau, harus berwarna pucat dan jernih.
f.       Kandungan logam berat serendah mungkin, bahkan bebas dari ion logam
Tabel 1. SNI = Standar Nasional Indonesia Minyak Kelapa Sawit Mentah ( CPO ), SNI 01-2901-2006
No
Karakteristik
Satuan
Syarat
1
2
3

4
Warna
Kadar air dan kotoran
Asam lemak bebas
(sebagai asam palmitat)
Bilangan Yodium
-
%, fraksi masa
%, fraksi masa

G Yodium/100 g
Jingga kemerah-merahan
0,5 maks
0,5 maks

50 - 55

Tabel 2. Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit (PKO), SNI 0003-1987
No
Karakteristik
Satuan
Syarat
1

2
3
Asam lemak bebas (sbg asam
laurat)
Kandungan benda asing
Kadar air
% ( w/w )

% ( w/w )
% ( w/w )
Maks 5,0

Maks 0,005
Maks 0,45

Tabel 3. Minyak kelapa sawit lainnya, SNI 01-0018-1987
No
Karakteristik
Satuan
Syarat
1
2
3
4
5
6
7
Asam lemak bebas
Kadar air dan kotoran
Bilangan iod
Titik keruh
Titik lunak
Warna
Rasa
% ( b/b )
% ( b/b )
-
°C
°C
-
-
Maks 0,1
Maks 0,15
Min 55
Maks 10
Maks 24
Merah : maks 3 ; Kuning : maks 30
Normal

Deskripsi / Uraian
Standar ini merupakan:
·         Syarat mutu
·         Pengambilan contoh
·         Cara uji
·         Pengemasan
·         Syarat penandaan dan rekomendasi minyak kelapa sawit mentah ( Crude Palm Oil – CPO )
Syarat mutu meliputi:
·         Warna yaitu jingga kemerah-merahan
·         Kadar air
·         Kotoran
·         Asam lemak bebas ( sebagai asam falmitat ) maks 0,5 (%, fraksi masa)
·         Bilangan yodium 50-55 (g yodium / 100g)
Pengambilan contoh diterapkan untuk:
·         In bulk ( storage tank) dan/ atau
·         Palka kapal serta mobil tangki ( road tanker)
Pengujian penentuan warna: secara visual dengan kasat mata
Penetapan kadar air, dilakukan dengan 2 metode yaitu:
·         Metode pemanasan dengan oven atau
·         Metode pemanasan dengan hot plate
Prinsip penghitungan persentase kandungan air adalah selisih berat contoh sebelum dan sesudah di panaskan



DAFTAR PUSTAKA



 
Blogger Templates