Social Icons

Featured Posts

Kamis, 15 Juni 2017

produksi karet di Indonesia

Tanaman Karet
Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman tahunan ini dapat disadap getah karetnya pertama kali pada umur tahun ke-5. Dari getah tanaman karet (lateks) tersebut bisa diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Kayu tanaman karet, bila kebun karetnya hendak diremajakan, juga dapat digunakan untuk bahan bangunan, misalnya untuk membuat rumah, furniture dan lain-lain.
Tanaman karet termasuk dalam famili Euphorbiacea, disebut dengan nama lain rambung, getah, gota, kejai ataupun havea. Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut:
Devisio            : Spermatophyta
Subdevisio      : Angiospermae
Klas                 : Dicotyledonae
Ordo                : Euphorbiales
Famili              : Euphorbiaceae
Genus              : Havea
Spesies            : Havea brasiliensis
Morfologi Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun karet berwarna hijau. Apabila akan rontok berubah warna menjadi kuning atau merah. Biasanya tanaman karet mempunyai “jadwal“ kerontokan daun pada setiap musim kemarau. Di musim rontok ini kebun karet menjadi indah karena daun – daun karet berubah warna dan jatuh berguguran. Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar.
Produksi dan Ekspor Karet di Indonesia
Karet dikenal karena kualitas elastisnya, adalah sebuah komoditi yang digunakan di banyak produk dan peralatan di seluruh dunia (mulai dari produk-produk industri sampai rumah tangga). Ada dua tipe karet yang dikenal luas, karet alam dan karet sintetis. Karet alam dibuat dari getah (lateks) dari pohon karet, sementara tipe sintetis dibuat dari minyak mentah. Kedua tipe ini dapat saling menggantikan dan karenanya mempengaruhi permintaan masing-masing komoditi; ketika harga minyak mentah naik, permintaan untuk karet alam akan meningkat. Namun ketika gangguan suplai karet alam membuat harganya naik, maka pasar cenderung beralih ke karet sintetis. Bagian ini mendiskusikan sektor karet alam Indonesia. Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir karet alam terbesar.
Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang konstan (26-32 derajat Celsius) dan lingkungan yang lembab supaya dapat berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara tempat sebagian besar karet dunia diproduksi. Sekitar 70% dari produksi karet global berasal dari Thailand, Indonesia dan Malaysia.
Memerlukan waktu tujuh tahun untuk sebatang pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini, penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.
            Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet negara ini - kira-kira 80% - diproduksi oleh para petani kecil. Oleh karena itu, perkebunan Pemerintah dan swasta memiliki peran yang kecil dalam industri karet domestik. Kebanyakan produksi karet Indonesia berasal dari provinsi-provinsi berikut: (1) Sumatra Selatan, (2) Sumatra Utara, (3) Riau, (4) Jambi dan (5) Kalimantan Barat.

Total luas perkebunan karet Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. Di tahun 2015, perkebunan karet di negara ini mencapai luas total 3,65 juta hektar. Karena prospek industri karet positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan komoditi seperti kakaokopi dan teh, menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet. Jumlah perkebunan karet milik petani kecil telah meningkat, sementara perkebunan Pemerintah dan swasta telah agak berkurang, kemungkinan karena perpindahan fokus ke kelapa sawit.
Sekitar 85% dari produksi karet Indonesia diekspor. Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia lain, diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil. Konsumsi karet domestik kebanyakan diserap oleh industri-industri manufaktur Indonesia (terutama sektor otomotif).
Produksi & Ekspor Karet Alam Indonesia:

2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2014
2016
Produksi
(Juta ton)
2.75
2.44
2.73
3.09
3.04
3.20
3.18
3.11
3.16
Ekspor
(Juta ton)
2.30
1.99
2.20
2.55
2.80
2.70
2.60
2.30


            Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen. Sementara Thailand memproduksi 1.800 kilogram (kg) karet per hektar per tahun, Indonesia hanya berhasil memproduksi 1.080 kg/ha. Baik Vietnam (1.720 kg/ha) maupun Malaysia (1.510 kg/ha) memiliki produktivitas karet yang lebih tinggi.
            Industri hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Saat ini, negara ini tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas pengolahan-pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik. Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya. Kendati begitu, di beberapa tahun terakhir tampak ada perubahan (walaupun lambat) karena jumlah ekspor sedikit menurun akibat meningkatnya konsumsi domestik. Sekitar setengah dari karet alam yang diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, ban vulkanisir, sarung tangan medis dan alat-alat lain.

Kesimpulan
            Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Dari getah tanaman karet (lateks) tersebut bisa diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet.
            Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Memerlukan waktu tujuh tahun untuk sebatang pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun.
Kebanyakan produksi karet Indonesia berasal dari provinsi-provinsi berikut: (1) Sumatra Selatan, (2) Sumatra Utara, (3) Riau, (4) Jambi dan (5) Kalimantan Barat. Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen.
Saat ini, negara ini tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas pengolahan-pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya.

Daftar Pustaka
http://digilib.unila.ac.id/3626/14/BAB%20II.pdf  (Diakses pada tanggal 11 Juni 2017)

Kamis, 25 Mei 2017

Kunjungan lapangan Balitri

"Laporan Kunjungan Lapang ke Balitri (Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar)"

Sejarah
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) terletak di Jalan Raya Pakuwon Km 2 Parungkuda, Sukabumi, dibentuk berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 65/Permentan /OT.140/10/2011 tanggal 12 Oktober 2011 yang merupakan transformasi dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) karena adanya perubahan mandat komoditas. Saat ini, Balittri mempunyai mandat melaksanakan penelitian tanaman industri dan penyegar (karet, kopi, kakao, teh, makadamia, melinjo, tamarin, kola, iles-iles, dan kemiri sayur). Sejarah perjalanan Balittri adalah sebagai berikut:

1975
:
Afdeling Pakuwon PTP XI
1976
:
Kebun Percobaan Pakuwon, Lembaga  Penelitian Tanaman Industri (LPTI)
1980
:
Sub Balai Penelitian Tanaman Industri Pakuwon
1984
:
Sub Balai Penelitian Kelapa Pakuwon, Departemen Pertanian
1994
:
Loka Penelitian Pola Tanam Kelapa, Departemen Pertanian
1998
:
Loka Penelitian Pola Tanam Kelapa, Departemen Kehutanan dan Perkebunan
2000
:
Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan
2006
:
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri)
2011
:
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri)

Visi dan Misi
VISI
Menjadi institusi penelitian berkelas dunia yang menghasilkan inovasi teknologi unggul tanaman industri dan penyegar untuk mewujudkan perkebunan moderen berbasis sumber daya lokal.

MISI
1.      Menghasilkan inovasi teknologi unggulan tanaman industri dan penyegar;
2.      Meningkatkan kualitas dan optimalisasi sumberdaya penelitian tanaman industri dan penyegar;
3.      Mengembangkan dan meningkatkan jaringan kerjasama iptek di tingkat nasional dan internasional.

Tugas dan Fungsi
Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar mempunyai tugas melaksanakan penelitian tanaman industri dan penyegar (karet, kopi, kakao, teh, makadamia, melinjo, tamarin, kola, iles-iles, dan kemiri sayur). Dalam melaksanakan tugasnya, Balittri menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan penelitian genetika, pemuliaan, perbenihan, dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman industri dan penyegar;
2.      Pelaksanaan penelitian morfologi, ekofisiologi, entomologi dan fitopatologi tanaman industri dan penyegar;
3.      Pelaksanaan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman industri dan penyegar;
4.      Pelaksanaan penelitian penanganan hasil tanaman industri dan penyegar;
5.      Pemberian pelayanan teknis penelitian tanaman industri dan penyegar;
6. Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman industri dan penyegar;
7.      Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Hasil dan Pembahasan

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI) terletak di Jalan Raya Pakuwon Km. 2 Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat Indonesia. Kunjungan lapang ini dilakukan pada hari Kamis, 27 April 2017.
Balittri mengembangkan benih berkualitas dan bersertifikat, dapat diperoleh melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balittri. UPBS Balittri terutama menyediakan benih karet, kopi, dan kakao. Benih-benih tersebut merupakan benih bermutu tinggi karena  diperoleh dari kebun induk yang bersertifikat. Kebun induk yang dimiliki oleh UPBS Balittri adalah sebagai berikut:
1.      Kebun induk kakao hibrida lindak menghasilkan benih 11 klon unggul kakao yaitu Sulawesi 1, TSH-858, Sca-12, Pa-300,Pa 150, GC-7, ICS-60, IMC-76, THR, UIT-1 dan IRC-70. Luas kebun 2.0 ha di KP. Pakuwon
2.      Kebun entres karet klon PB 260 seluas 1.0 ha di KP Pakuwon
3.      Kebun entres kopi robusta seluas 1 ha di KP Pakuwon  dan 1 ha di KP. Cahaya Negeri.
4.      Kebun entres  teh di KP. Gunung Putri seluas 0,5 ha

Teknis pelaksanaan kunjungan ke Balittri, dosen dan mahasiswa mendengarkan presentasi dari pihak Balttri. Presentasi yang disampaikan berisi tentang sejarah berdirinya Balittri, , Tugas & Fungsi, Visi, Misi, & Tujuan, Struktur Organisasi, Jenis Kegiatan & Layanan, Gedung beserta alat dan mesin yang dimiliki untuk menunjang teknologi yang ada di Balittri tersebut. Acara presentasi ditutup dengan sesi tanya jawab. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke ke kawasan Agro Widyawisata Ilmiah (AWwI) yang merupakan kawasan yang memiliki beragam varietas tanaman yang di kembangkan oleh pengelola Balittri.


Fasilitas Balitri Yang Di Kunjungi

1.         Tempat pengolahan tanaman Serai wangi.





2.         Kebun Budidaya tanaman






3.         Tempat Pengolahan Kakao



   




 




4.         Tempat Pengolahan Kopi


 


 5.         Tempat Pengolahan Biodiesel







 




Daftar Pustaka

 
Blogger Templates