TUGAS MATA
KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN
PERKEBUNAN
“BUDIDAYA KELAPA
SAWIT”
Disusun Oleh:
Nama :
Dewi Zaenati
NPM :
143112500150022
PROGRAM STUDI
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
NASIONAL
JAKARTA
2017
Kelapa Sawit
Kelapa
sawit (Elaeis) adalah tanaman perkebunan penting penghasil minyak makanan,
minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah
penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Diperkirakan pada
tahun 2009, Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk
meningkatkan produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman,
rehabilitasi kebun yang sudah ada dan intensifikas.
Pelaku
usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari perusahaan perkebunan besar
swasta, perkebunan negara dan perkebunan rakyat. Khusus untuk perkebunan sawit
rakyat, permasalahan umum yang dihadapi antara lain rendahnya produktivitas dan
mutu produksinya.
Salah
satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut adalah
karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari
pembibitan sampai dengan panennya. Dengan penerapan teknologi budidaya yang
tepat, akan berpotensi untuk peningkatan produksi kelapa sawit.
1. Syarat Tumbuh
Lama penyinaran matahari yang baik
untuk kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan
1.500-4.000 mm, temperatur optimal 24-28o C. Ketinggian tempat yang ideal untuk
sawit antara 1-500 m dpl (di atas permukaan laut). Kelembaban optimum yang
ideal untuk tanaman sawit sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk
membantu proses penyerbukan.
Tingkat keasaman (pH) yang optimum
untuk sawit adalah 5,0- 5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur,
datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80
cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya
tidak lebih dari 15o .
2. Teknologi Budidaya
2.1. Bahan Tanam
Kelapa sawit memiliki banyak jenis,
berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibedakan menjadi Dura, Pisifera
dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga
dianggap dapat memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya
besar-besar dan kandungan minyak berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki
cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.
Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap
bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat
cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul
persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak
pertandannya dapat mencapai 28%.
2.2. Pembibitan pendahuluan (Pre Nursery)
Pembibitan pendahuluan dapat
dilakukan menanam kecambah di atas bedengan atau di dalam kantong plastik
kecil. Penggunaan bedengan tidak dianjurkan karena pemeliharaan lebih sulit dan
seleksi bibit tidak bisa intensif serta banyak bibit yang rusak pada saat
pemindahan ke kantong plastik besar.
2.2.1. Persiapan untuk pembibitan pendahuluan:
a. Bedengan
dibuat dengan cara meninggikan permukaan tanah atau membuat parit drainase
pembatas selebar 50 cm dan dalam 15 – 20 cm sedemikian rupa sehingga terbentuk
bedengan berukuran lebar yang dapat memuat 12 kantong plastik dan panjang 10 -
12 m. Dalam Gambar 17 disajikan contoh bedengan untuk menyusun kantong plastik
kecil.
b. Selanjutnya,
diberi naungan dengan tiang 2 m dan atap dari pelepah daun kelapa atau kelapa
sawit sedemikian rupa hingga intensitas cahaya sekitar 40%. Dapat juga
menggunakan paranet yang meloloskan cahaya 40 % tetapi biayanya menjadi mahal.
c. Siapkan
kantong plastik berukuran 15 x 20 cm dengan lobang di bidang alas dan keliling
sisi bagian bawah, lalu isi dengan tanah lapisan atas (top soil), kemudian
susun rapat di bedengan. Agar kantong plastik tidak rebah, diberi penahan dari
papan atau belahan bamboo.
b. Siram
tanah dalam kantong palstik setiap hari selama 2 – 3 hari sebelum penanaman
kecambah supaya tanah agak memadat
2.2.2. Penyemaian
Tahapan
pekerjaan dalam penyemaian benih meliputi:
a. Benih
yang sudah berkecambah disemai dalam polybag kecil, kemudian diletakkan pada
bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
b. Ukuran
polybag yang digunakan adalah 12 cm x 23 cm atau 15 cm x 23 cm (lay flat).
c. Polybag
diisi dengan 1,5-2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi
lubang untuk drainase.
d. Kecambah
ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
e. Setelah
bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5
helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery).
f. Keadaan
tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek.
Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapat menjaga kelembaban yang
dibutuhkan oleh bibit.
g. Penyiraman
dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha menghasilkan
kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena
siraman.
h. Untuk
penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar,
berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi
lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
i.
Polybag diisi dengan tanah atas yang
telah diayak sebanyak 15-30 kg/polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang
akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit.
j.
Bibit dederan ditanam sedemikian rupa
sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanah sekitar
bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian
disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan
hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x100
cm.
2.2.4. Pemeliharaan Pembibitan
Bibit yang telah ditanam di polibag
dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan
dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat.
Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, penyiangan, pengawasan dan seleksi,
serta pemupukan
2.2.5. Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan dua kali
sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7-8 mm pada hari yang bersangkutan.
Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan
semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya
tidak padat. Kebutuhan air siraman ± 2 lt/polybag/hari, disesuaikan dengan umur
bibit.
2.2.6. Penyiangan
Gulma yang tumbuh dalam polybag dan
di tanah antara polybag harus dibersihkan, dikored atau disemprot dengan
herbisida. Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan, atau
disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.
2.2.7. Pengawasan dan Seleksi
Pengawasan bibit dilakukan untuk
mengamati pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit. Bibit
yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus
dibuang. Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main
nursery, yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat
pemindahan bibit ke lapangan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, yakni
dengan ciri-ciri;
a. Bibit
tumbuh meninggi dan kaku
b. Bibit
terkulai
c. Anak
daun tidak membelah sempurna
d. Terkena
penyakit
e. Anak
daun tidak sempurna
2.2.8. Pemupukan
Pemupukan bibit sangat penting untuk
memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur.
2.3. Pemindahan Bibit ke Lapangan
Bibit yang telah berumur 8 bulan
dapat dipindahkan ke areal pertanaman, tetapi umumnya bibit dipindah ke lapang pada
umur 10-14 bulan. Pemindahan bibit ke lapangan harus diusahakan agar bibit
tidak rusak dan polybagnya tidak pecah.
3. Teknik Penanaman
3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam kelapa sawit dapat
monokultur ataupun tumpangsari.
3.2. Pengajiran
Maksud pengajiran adalah untuk
menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengan jarak tanam
yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari
segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur.
3.3. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang
tanam dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukurannya adalah 50x40x40 cm. Pada
waktu menggali lubang, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan, masingmasing di
sebelah Utara dan Selatan lubang.
3.4. Cara Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim
hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Adapun tahapan penanaman sebagai
berikut:
a. Letakkan
bibit yang berasal dari polibag di masing-masing lubang tanam yang sudah
dibuat.
b. Siram
bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan
persediaan air cukup untuk bibit.
c. Sebelum
penanaman dilakukan pemupukan dasar lubang tanam dengan menaburkan secara
merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gr/lubang.
d. Buat
keratan vertikal pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan
hati-hati, kemudian dimasukkan ke dalam lubang.
e. Timbun
bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke
sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat
berdiri tegak.
f. Penanaman
bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama
ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila
hujan, lubang tidak akan tergenang air.
g. Pemberian
mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
3.5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi
penyulaman, penanaman tanaman penutup tanah, membentuk piringan (bokoran),
pemupukan, dan pemangkasan daun.
3.6. Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti
tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik. Penyulaman yang baik dilakukan pada
musim hujan. Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman yang disulam
yaitu berkisar 10-14 bulan. Banyaknya sulaman sekitar 3-5% setiap hektarnya.
Cara penyulaman sama dengan cara menanam bibit.
3.7. Penanaman Tanaman Penutup Tanah
Penanaman tanaman kacang-kacangan
penutup tanah (LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat
memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan
mempertahankan kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma.
3.8. Membentuk Piringan (Bokoran)
Piringan di sekitar tanaman kelapa
sawit harus tetap bersih. Oleh karena itu tanah di sekitar pokok dengan
jari-jari 1-2 m dari tanaman harus selalu bersih dan gulma yang tumbuh harus
dibabat, atau disemprot dengan herbisida.
3.9. Pemupukan
Jenis pupuk yang diberikan adalah
pupuk N, P, K, Mg dan B (Urea, TSP, KCl, Kiserit dan Borax). Pemupukan tambahan
dengan pupuk Borax pada tanaman muda sangat penting, karena kekurangan Borax
(Boron deficiency) yang berat dapat mematikan tanaman kelapa sawit.
3.10. Pemangkasan Daun
Pemangkasan daun bertujuan untuk
memperoleh pohon yang bersih dengan jumlah daun yang optimal dalam satu pohon
serta memudahkan pamanenan. Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan
umur/tingkat pertumbuhan tanaman. Macam-macam pemangkasan:
a. Pemangkasan
pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang berumur 16-20
bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buahbuah pertama yang
busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan tajam yang
disebut dodos.
b. Pemangkasan
produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 20-28 bulan dengan
memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang
dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu
sama lain), juga buah- buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos
seperti pada pemangkasan pasir.
c. Pemangkasan
pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi
dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok
hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus
sependek mungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.
3.11. Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma bertujuan untuk
menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma
dalam pemanfaatan unsur hara, air dan cahaya. Selain itu pengendalian gulma
juga bertujuan untuk mempermudah kegiatan panen.
3.12. Pengendalian Hama dan Penyakit
Tanaman kelapa sawit tergolong
tanaman kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama
dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian
besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Sedangkan
penyakit yang menyerang tanaman sawit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri
dan virus.
4. Panen
Tanaman kelapa sawit mulai berbuah
setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika
tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5
pohon terdapat 1 tandan buah matang panen.
Ciri
tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh (brondolan)
dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang
lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Disamping itu ada kriteria
lain tandan buah yang dapat dipanen apabila tanaman berumur kurang dari 10
tahun, jumlah brondolan yang jatuh kurang lebih 10 butir, jika tanaman berumur
lebih dari 10 tahun, jumlah brondolan yang jatuh sekitar 15-20 butir.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Pengkajian dan pengembangan
2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/publikasi/sawit.pdf
(
Diakses pada Tanggal 24 April 2017)
Syakir. M. 2010. Perkebunan Budidaya
Kelapa Sawit. http://perkebunan
.litbang.pertanian.go.id/wp-content/up loads/2011/01/perkebunan_budida ya_sawit.pdf
( Diakses pada Tanggal 24 April 2017)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar