Social Icons

Senin, 17 April 2017

Sejarah dan Jenis- Jenis Kopi

TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN


‘SEJARAH DAN JENIS- JENIS KOPI’


Disusun Oleh:
                                                          Nama              : Dewi Zaenati
                                                          NPM               : 143112500150022

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017

1.         Sejarah Kopi Di Dunia
            Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.
Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.


2.         Sejarah Kopi Di Indonesia
Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil produksi. Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi.
Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan sebagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Timor dan Flores. Pada permulaan abad ke-20 perkebunan kopi di Indonesia mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan untuk mencoba menggantinya dengan jenis kopi yang lebih kuat terhadap serangan penyakit yaitu kopi Liberika dan Ekselsa. Namun didaerah Timor dan Flores yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama meskipun jenis kopi yang dibudidayakan disana juga kopi Arabica.
Pemerintah Belanda kemudian menanam kopi Liberika untuk menanggulangi hama tersebut. Varietas ini tidak begitu lama populer dan juga terserang hama. Kopi Liberika masih dapat ditemui di pulau Jawa, walau jarang ditanam sebagai bahan produksi komersial. Biji kopi Liberika sedikit lebih besar dari biji kopi Arabika dan kopi Robusta. sebenarnya, perkebunan kopi ini tidak terserang hama, namun ada revolusi perkebunan dimana buruh perkebunan kopi menebang seluruh perkebunan kopi di Jawa pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Robusta menggantikan kopi Liberika. Walaupun ini bukan kopi yang khas bagi Indonesia, kopi ini menjadi bahan ekspor yang penting di Indonesia.
Bencana alam, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan - semuanya mempunyai peranan penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk mempermudah perdagangan kopi. Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi Arabika. Kopi Arabika juga banyak diproduksi di kebun-kebun seperti (Kayumas, Belawan, Kalisat/Jampit) di Bondowoso, Jawa Timur. Sedangkan kopi Robusta di Jawa Timur, banyak diproduksi dari kebun - kebun seperti Ngrangkah Pawon (Kediri), Bangelan (Malang), Malangsari, Kaliselogiri (Banyuwangi). Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Kopi Robusta tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi Arabika tumbuh di daerah tinggi.
Setelah kemerdekaan banyak perkebunan kopi yang ditinggalkan kemudian diambil alih oleh pemerintah yang baru. Saat ini sekitar 92% produksi kopi berada digarap petani-petani kecil atau koperasi.

2.         Jenis- Jenis Kopi Di indonesia
            Tanaman kopi menjadi salah satu hasil perkebunan yang sangat menguntungkan di berbagai negara, khususnya negara penghasil kopi seperti Brazil, kolombia, dan Indonesia. Dan tanaman kopi yang dihasilkan tidak sama di setiap negara. Kopi akan tumbuh dengan sangat baik, jika letak ketinggian daerah perkebunannya, dan iklim cuaca di daerah tersebut sesuai.


Adapun jenis jenis dari tanaman kopi tersebut adalah sebagai berikut.
2.1.      Kopi Arabika
            Kopi Arabika adalah kopi yang paling baik mutu cita rasanya, tanda-tandanya ialah biji picak dan daun yang hijau-tua dan berombak-ombak. Pertama kali kopi Arabika diperkenalkan oleh Linnaeus pada tahun 1753, tanaman ini tidak tahan terhadap hama dan penyakit, banyak terdapat di Amerika Latin, Afrika Tengah dan Timur, India dan beberapa terdapat di Indonesia (Clifford dan Willson, 1985).
Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Sebagian besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis ini. Aslinya kopi ini berasal dari Ethiopia dan sekarang mulai di budidayakan di berbagai belahan dunia mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia. Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau subtropis. Kopi Arabika tumbuh pada ketinggian 600-2000 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 3 meter bila kondisi lingkungannya baik. Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26 oC.. Kopi arabika memiliki kualitas cita rasa tinggi dan kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan dengan kopi robusta, sehingga harganya lebih mahal.
            Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, kopi arabika membutuhkan bulan kering sekitar 3 bulan/tahun. Arabika mulai bisa dipanen setelah berumur 4 tahun. Dengan produktivitas rata-rata sekitar 350-400 kg/ha/tahun. Namun bila dipelihara secara intensif bisa menghasilkan hingga 1500-2000 kg/ha/tahun.
            Biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap. Apabila telah matang, buah arabika berwarna merah terang. Buah yang telah matang mudah sekali rontok, jika dibiarkan buah tersebut akan menyerap bau-bauan yang ada ditanah sehingga mutunya turun. Arabika sebaiknya dipanen sebelum buah rontok ke tanah. Rendemen atau prosentase antara buah yang panen dengan biji kopi (green bean) yang dihasilkan sekitar 18- 20%. Para petani kopi arabika biasa mengolah buah kopi dengan proses basah. Meski memerlukan biaya dan waktu lebih lama, tapi mutu biji kopi yang dihasilkan jauh lebih baik.
Varietas kopi arabika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.1.1.   Kopi Aceh Gayo 
Jenis kopi di Indonesia yang pertama adalah kopi aceh gayo. Kopi yang berasal dari tanah gayo Aceh tengah ini memiliki cita rasa kopi yang sangat begitu khas. Tidak heran jika kopi ini menjadi unggulan bagi para penikmat kopi di Indonesia. Kopi Aceh Gayo merupakan salah satu kopi arabika yang terbaik di dunia, dan menjadi salah satu penghasil kopi terbesar  di Asia.
Untuk soal rasa, kopi aceh gayo memiliki cita rasa yang sedikit lebih pahit dengan tingkat keasaman rendah, serta aromanya yang sangat tajam menjadikan kopi ini banyak di sukai di banyak kalangan pecinta kopi nusantara.  Meskipun memiliki rasa pahit kopi gayo memiliki aroma yang sangat gurih di setiap tegukannya.
2.1.2.   Kopi Sumatra
Kopi Sumatera merupakan salah satu varietas kopi yang berasal dari Sumatera yang bertekstur paling halus dan bercita rasa paling berat dan kompleks di antara beragam kopi di dunia. Sebagian besar kopi Sumatera diproses secara kering (dry-processed), tetapi sebagian lagi melalui proses pencucian ringan (semi-washed).
Kopi Sumatera sangat terkenal dengan Mandheling atau Lintong-nya yang tumbuh di pesisir selatan pulau Sumatera. Kopi Sumatera yang tumbuh lebih ke arah Barat dikenal sebagai kopi Gunung Gayo. Kopi Gayo Sumatera dideskripsikan sebagai kopi yang bercita rasa manis dan bersih. Ahli kopi yang ingin membeli kopi Sumatera biasanya melihat ketuaan dari biji kopi Sumatera. Biji kopi ini mengeluarkan rasa “tanah” dan “rempah”. Hal ini merupakan keunikan tersendiri biji kopi Sumatera sehingga membuatnya menjadi satu dari kopi yang paling dicari di antara jenis kopi yang ada di dunia.2.
2.1.3.   Kopi Bali Kintamani
Seperti namanya kopi tersebut berasal dari daerah kintamani bali. Kopi kintamani memiliki keunikan cita rasa yang berbeda dari jenis kopi nusantara yaitu dengan memiliki cita rasa buah buahan yang segar dan asam. Hal itu di karenakan di daerah kintamani masyarakat setempat menanam kopi bersamaan dengan tanaman lain seperti buah dan sayur seperti buah jeruk.
Jenis kopi kintamani memiliki rasa ciri khas buah sebab tanaman kopi yang berada di daerah kintamani meresap rasa buah buahan seperti jeruk dan lain sebagainya. Selain itu kopi Kintamani ini memiliki cita rasa yang lembut dan tidak berat seperti jenis kopi nusantara sumatera. Untuk sobat pecinta kopi yang ingin mencicipi rasa kopi yang berbeda, ada baiknya sobat mencoba kopi kintamani ini.
2.1.4.   Kopi Sulawesi
Jenis kopi yang paling terkenal  di Sulawesi adalah Kopi Toraja. Tanah toraja adalah daerah yang di berkahi memiliki tanah subur dengan menghasilkan kopi yang berkualitas yang tidak kalah baik dengan kopi nusantara di daerah lain. Ciri khas dari kopi toraja adalah cita rasanya yang memiliki rasa yang kuat serta kadar asam yang sangat tinggi.
Meskipun memiliki rasa yang hampir mirip dengan jenis kopi sumatera namun aroma dari kopi toraja memiliki ciri khas tersendiri. Ukuran biji kopi sendiri, toraja memiliki bentuk biji yang lebih kecil, lebih mengkilap dan lebih licin pada kulitnya. Untuk penikmat kopi, belum afdol deh kalo belum menikmati jenis kopi nusantara yang satu ini.
2.1.5.   Kopi Jawa
Jenis kopi selanjutnya datang dari pulau Jawa. Jenis kopi jawa ini juga memiliki rasa yang jelas berbeda dari jenis kopi kopi lainnya. Aroma rempah yang terdapat di dalam biji kopi jawa lahir secara alami dan menjadikan kopi jenis ini laris di nikmati oleh masyarakat umum. Meskipun dari segi rasa dan aroma kopi jawa tidak sekuat kopi Sumatra dan Sulawesi,  namun kopi jawa memiliki penikmat kopi tersendiri sebab ciri khas aroma rempah yang melekat di dalam biji kopi sungguh terasa.
2.1.6.   Kopi Flores
Jenis kopi dari Flores ini yang tidak kalah populer adalah kopi flores Bajawa. Kopi ini banyak di hasilkan di daerah Kabupaten Ngada. Sama hal nya dengan kopi bali kintamani jenis kopi flores bajawa memiliki sedikit aroma buah di setiap biji kopinya, dan rasa khas tembakau merupakan sebuah keunikan yang mungkin tidak terdapat di semua jenis kopi di nusantara maupun dunia.
2.1.7.   Kopi Wamena Papua
Jenis kopi yang terakhir adalah Kopi Wamena Papua.  Kopi dari Indonesia bagian timur ini sangat bagus dan dapat tumbuh secara optimal apabila di tanam pada daerah yang memiliki ketinggian mencapai 1200 meter di atas permukaan laut. Kopi papua wamena yang di tanam pada ketinggian tersebut memiliki citras rasa yang sangat tajam dan nikmat.
Hal yang paling menarik dari kopi papua wamena adalah dengan kopi yang di tanam secara organik tanpa campur tangan bahan bahan kimia. Seperti jenis kopi nusantara bali kintamani, kopi ini memiliki cita rasa yang begitu lembut dan nyaris tanpa ampas.

2.2.      Kopi Robusta
            Kopi robusta pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1898. Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran terhadap ketinggian lahan budidaya. Buididaya jenis kopi ini sangat cocok dilakukan didataran rendah dimana kopi arabika rentan terhadap serangan penyakit HV. Dahulu setelah ada serangan penyakit HV yang masif, pemerintah kolonial mereplanting tanaman kopi arabika dengan kopi robusta.
Kopi Robusta digolongkan lebih rendah mutu citarasanya dibandingkan dengan citarasa kopi arabika. Kopi robusta memiliki rasa yang lebih pahit, sedikit asam, dan mengandung kadar kafein yang jauh lebih banyak. Hampir seluruh produksi kopi robusta di seluruh dunia dihasilkan secara kering dan untuk mendapatkan rasa lugas (neutral taste) tidak boleh mengandung rasa-rasa asam dari hasil fermentasi. Kopi Robusta memiliki kelebihan-kelebihan yaitu kekentalan yang lebih dan warna yang kuat. Oleh karena itu, kopi Robusta banyak diperlukan untuk bahan campuran blends untuk merek-merek tertentu (Siswoputranto, 1992).
            Jenis kopi ini tumbuh baik pada ketinggian 400-800 m dpl dengan suhu 21-24oC. Cakupan pertumbuhan tanaman ini lebih luas daripada kopi arabika yang harus dibudidayakan pada ketinggian tertentu.Kopi robusta dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Selain itu, kopi jenis ini lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit. Hal ini menjadikan tanaman ini lebih murah harganya dan tidak sulit untuk didapat.
            Jenis kopi robusta lebih cepat berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar 2,5 tahun robusta sudah mulai bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal. Produktivitas robusta secara rata-rata lebih tinggi dibanding arabika yakni sekitar 900-1.300 kg/ha/tahun. Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan hingga 2000 kg/ha/tahun.
            Untuk berbuah dengan baik, jenis kopi robusta memerlukan waktu panas selama 3-4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali hujan. Buah robusta bentuknya membulat dan warna merahnya cenderung gelap. Buah robusta menempel kuat di tangkainya meski sudah matang. Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%.
Varietas kopi Robusta yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.2.1.   Kopi Lanang
Kopi Lanang berasal dari Bayuwangi, Jawa Timur, dapat tumbuh di suhu 20-30oC pada ketinggian 1800 mdpl. Dinamakan Kopi Lanang karena bentuk biji kopi yang tunggal, bulat dan tidak berbelah seperti biji kopi umumnnya.
Kopi Lanang bisa dihasilkan dari jenis Kopi Robusta dan Kopi Arabika.  Untuk aroma dan rasa kopi ini, lebih kuat dibandingkan kopi biasa karena mengandung banyak senyawa Tribulus Terrestris yang merupakan suplemen herbal populer yang mampu meningkatkan kadar testosteron, gairah seks dan dehydroepiandrosterone (DHEA). Dengan kandungan seperti diatas, kopi ini dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria dan kandungan kafein 2.1%, nilai jual kopi ini lebih tnggi daripada kopi pada umumnya..
2.3.      Kopi Liberika
            Kopi Liberika berasal dari Angola dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah cukup lama penyebarannya, tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah yang kurang bagus dan rendemennya rendah (Najiyati dan Danarti, 1997).
            Kopi liberika dikenal kurang ekonomis dan komersial dikarenakan memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran biji serta kualitas cita rasanya. Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu dompol. Untuk menyeleksi jenis kopi liberika masih mungkin dilakukan untuk membuktikan nilai ekonomis dan komersialnya agar dikenal masyarakat luas. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12%. Hal ini yang membuat para petani malas menanam jenis kopi ini.
            Kopi liberika (Coffea liberica) bisa tumbuh dengan baik didataran rendah dimana robusta dan arabika tidak bisa tumbuh. Tanaman kopi ini tumbuh sangat subur di daerah kelembaban tinggi dan daerah cuaca panas. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit HV dibanding jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika. Ukuran daun, percabangan dan tinggi pohon jenis kopi liberika lebih besar dari arabika dan robusta.
            Produtivitas jenis kopi liberika ada pada kisaran 400-500 kg/ha/tahun. Liberika dapat berbunga sepanjang tahun dan cabang primernya dapat bertahan lebih lama. Dalam satu buku bisa berbunga lebih dari satu kali. Di Indonesia, jenis kopi ini ditanam di daerah Jawa dan Lampung.
Varietas kopi Liberika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.3.1.   Kopi Jambi
Kopi ini memiliki bentuk daun, bunga, dan buah kopi yang lebih besar daripada robusta dan arabika. Dalam satu buku pada cabang tanaman bisa tumbuh bunga dan buah sebanyak lebih dari sekali. Kopi ini juga dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan produksi buah sepanjang tahun. Kopi Jambi rentan sekali terhadap serangan penyakit HV. Kualitas buahnya pun tergolong rendah karena mempunyai ukuran yang tidak seragam. Selain itu, tingkat produksi kopi liberika juga tergolong sedang.
2.3.2.   Kopi Bengkulu
Tanah Bengkulu sangat subur, sehingga sangat baik untuk hasil perkebunan, terutama kopi. Di Bengkulu terdapat tradisi meminum kopi pada saat diadakan pesta-pesta adat yang berasal dari kebun para masing-masing anggota keluarga. Aroma Kopi Bengkulu agak berbau cokla dan rasanya juga lezat. Rasa dan aromanya yang unik membuat kopi Bengkulu kini semakin digemari oleh para pecinta kopi.

2.4.      Kopi Ekselsa
            Kopi ekselsa dapat tumbuh di daerah panas serta agak kering. Kopi ini umumnya ditanam dengan tingkat perawatan yang sederhana dan tanpa dipangkas. Penanganan yang diperlukan dalam budidaya kopi ini adalah memperbaiki kualitas cita rasa kopi.Caranya dengan seleksi dan persilangan untuk mendapatkan kopi ekselsa yang memiliki nilai jual tinggi.
            Kopi excelsa (Coffea excelsa) merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran terhadap ketinggian lahan. Kopi ini bisa tumbuh dengan baik didataran rendah mulai 0-750 meter dpl. Selain itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Pohon kopi excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan lebar dengan warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah oleh tangan. Kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800-1.200 kg/ha/tahun. Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di Indonesia, excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi.


DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2009. Sejarah Kopi di Dunia dan Indonesia. http://oleng87.blogspot.co.id/2009/05/sejarah-kopi-di-dunia-dan-indonesia.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2009. Mengenal jenis-jenis kopi budidaya. http://bp4k.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2016/11/Mengenal-jeni-jenis-kopi.pdf (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2017. Jenis Kopi Indonesia. http://kipphtom.blogspot.co.id/2017/01/jenis-kopi-indonesia.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Esterina. S. 2017. Kopi Arabika, Kopi Liberika, Dan Kopi Robusta. http://fpertanianunasshellaesterina.blogspot.co.id/2017/04/budidaya-tanaman-perkebunan.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates