TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
‘SEJARAH DAN JENIS- JENIS KOPI’
Disusun Oleh:
Nama : Dewi Zaenati
NPM :
143112500150022
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017
1. Sejarah
Kopi Di Dunia
Sejarah kopi dapat ditelusuri
jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu
menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih
luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.
Pada
awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511,
karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam
konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena
popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan
atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir,
larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan
gudang kopi ditutup.
Dari
dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer
selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam
skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun
1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab.
Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika
kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa,
karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang
Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur
harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis;
sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para
pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad
ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh
terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman,
maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.
2. Sejarah
Kopi Di Indonesia
Kopi
Indonesia saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi
hasil produksi. Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan
penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Indonesia
diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan
perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk
pertumbuhan dan produksi kopi.
Pada
era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di
Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial pada
koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan
sebagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi
jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah
Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor,
Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, Sumatera, Sulawesi, Timor dan Flores. Pada permulaan abad ke-20
perkebunan kopi di Indonesia mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan
seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan
untuk mencoba menggantinya dengan jenis kopi yang lebih kuat terhadap serangan
penyakit yaitu kopi Liberika dan Ekselsa. Namun didaerah Timor dan Flores yang
pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama
meskipun jenis kopi yang dibudidayakan disana juga kopi Arabica.
Pemerintah
Belanda kemudian menanam kopi Liberika untuk menanggulangi hama tersebut.
Varietas ini tidak begitu lama populer dan juga terserang hama. Kopi Liberika
masih dapat ditemui di pulau Jawa, walau jarang ditanam sebagai bahan produksi
komersial. Biji kopi Liberika sedikit lebih besar dari biji kopi Arabika dan
kopi Robusta. sebenarnya, perkebunan kopi ini tidak terserang hama, namun ada
revolusi perkebunan dimana buruh perkebunan kopi menebang seluruh perkebunan
kopi di Jawa pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Robusta
menggantikan kopi Liberika. Walaupun ini bukan kopi yang khas bagi Indonesia,
kopi ini menjadi bahan ekspor yang penting di Indonesia.
Bencana
alam, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan - semuanya mempunyai peranan
penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di
bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk
mempermudah perdagangan kopi. Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat
jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh
dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang
ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi Arabika. Kopi Arabika juga banyak
diproduksi di kebun-kebun seperti (Kayumas, Belawan, Kalisat/Jampit) di
Bondowoso, Jawa Timur. Sedangkan kopi Robusta di Jawa Timur, banyak diproduksi
dari kebun - kebun seperti Ngrangkah Pawon (Kediri), Bangelan (Malang),
Malangsari, Kaliselogiri (Banyuwangi). Di daerah pegunungan dari Jember hingga
Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Kopi Robusta
tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi Arabika tumbuh di daerah tinggi.
Setelah
kemerdekaan banyak perkebunan kopi yang ditinggalkan kemudian diambil alih oleh
pemerintah yang baru. Saat ini sekitar 92% produksi kopi berada digarap
petani-petani kecil atau koperasi.
2. Jenis-
Jenis Kopi Di indonesia
Tanaman kopi menjadi salah satu
hasil perkebunan yang sangat menguntungkan di berbagai negara, khususnya negara
penghasil kopi seperti Brazil, kolombia, dan Indonesia. Dan tanaman kopi yang
dihasilkan tidak sama di setiap negara. Kopi akan tumbuh dengan sangat baik,
jika letak ketinggian daerah perkebunannya, dan iklim cuaca di daerah tersebut
sesuai.
Adapun
jenis jenis dari tanaman kopi tersebut adalah sebagai berikut.
2.1. Kopi Arabika
Kopi Arabika adalah kopi yang paling
baik mutu cita rasanya, tanda-tandanya ialah biji picak dan daun yang hijau-tua
dan berombak-ombak. Pertama kali kopi Arabika diperkenalkan oleh Linnaeus pada
tahun 1753, tanaman ini tidak tahan terhadap hama dan penyakit, banyak terdapat
di Amerika Latin, Afrika Tengah dan Timur, India dan beberapa terdapat di
Indonesia (Clifford dan Willson, 1985).
Kopi
arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Sebagian
besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis ini. Aslinya kopi
ini berasal dari Ethiopia dan sekarang mulai di budidayakan di berbagai belahan
dunia mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan
Indonesia. Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau
subtropis. Kopi Arabika tumbuh pada ketinggian 600-2000 m di atas permukaan
laut. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 3 meter bila kondisi lingkungannya baik.
Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26 oC.. Kopi arabika memiliki
kualitas cita rasa tinggi dan kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan
dengan kopi robusta, sehingga harganya lebih mahal.
Untuk mendapatkan hasil panen yang
baik, kopi arabika membutuhkan bulan kering sekitar 3 bulan/tahun. Arabika
mulai bisa dipanen setelah berumur 4 tahun. Dengan produktivitas rata-rata
sekitar 350-400 kg/ha/tahun. Namun bila dipelihara secara intensif bisa
menghasilkan hingga 1500-2000 kg/ha/tahun.
Biji kopi yang dihasilkan berukuran
cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap. Apabila telah matang, buah
arabika berwarna merah terang. Buah yang telah matang mudah sekali rontok, jika
dibiarkan buah tersebut akan menyerap bau-bauan yang ada ditanah sehingga
mutunya turun. Arabika sebaiknya dipanen sebelum buah rontok ke tanah. Rendemen
atau prosentase antara buah yang panen dengan biji kopi (green bean) yang
dihasilkan sekitar 18- 20%. Para petani kopi arabika biasa mengolah buah kopi
dengan proses basah. Meski memerlukan biaya dan waktu lebih lama, tapi mutu
biji kopi yang dihasilkan jauh lebih baik.
Varietas
kopi arabika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.1.1. Kopi Aceh Gayo
Jenis
kopi di Indonesia yang pertama adalah kopi aceh gayo. Kopi yang berasal dari
tanah gayo Aceh tengah ini memiliki cita rasa kopi yang sangat begitu khas.
Tidak heran jika kopi ini menjadi unggulan bagi para penikmat kopi di
Indonesia. Kopi Aceh Gayo merupakan salah satu kopi arabika yang terbaik di
dunia, dan menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di Asia.
Untuk
soal rasa, kopi aceh gayo memiliki cita rasa yang sedikit lebih pahit dengan
tingkat keasaman rendah, serta aromanya yang sangat tajam menjadikan kopi ini
banyak di sukai di banyak kalangan pecinta kopi nusantara. Meskipun
memiliki rasa pahit kopi gayo memiliki aroma yang sangat gurih di setiap
tegukannya.
2.1.2. Kopi Sumatra
Kopi
Sumatera merupakan salah satu varietas kopi yang berasal dari Sumatera yang
bertekstur paling halus dan bercita rasa paling berat dan kompleks di antara
beragam kopi di dunia. Sebagian besar kopi Sumatera diproses secara kering
(dry-processed), tetapi sebagian lagi melalui proses pencucian ringan (semi-washed).
Kopi
Sumatera sangat terkenal dengan Mandheling atau Lintong-nya yang tumbuh di
pesisir selatan pulau Sumatera. Kopi Sumatera yang tumbuh lebih ke arah Barat
dikenal sebagai kopi Gunung Gayo. Kopi Gayo Sumatera dideskripsikan sebagai
kopi yang bercita rasa manis dan bersih. Ahli kopi yang ingin membeli kopi
Sumatera biasanya melihat ketuaan dari biji kopi Sumatera. Biji kopi ini
mengeluarkan rasa “tanah” dan “rempah”. Hal ini merupakan keunikan tersendiri
biji kopi Sumatera sehingga membuatnya menjadi satu dari kopi yang paling
dicari di antara jenis kopi yang ada di dunia.2.
2.1.3. Kopi Bali Kintamani
Seperti
namanya kopi tersebut berasal dari daerah kintamani bali. Kopi kintamani
memiliki keunikan cita rasa yang berbeda dari jenis kopi nusantara yaitu dengan
memiliki cita rasa buah buahan yang segar dan asam. Hal itu di karenakan di
daerah kintamani masyarakat setempat menanam kopi bersamaan dengan tanaman lain
seperti buah dan sayur seperti buah jeruk.
Jenis
kopi kintamani memiliki rasa ciri khas buah sebab tanaman kopi yang berada di
daerah kintamani meresap rasa buah buahan seperti jeruk dan lain sebagainya.
Selain itu kopi Kintamani ini memiliki cita rasa yang lembut dan tidak berat
seperti jenis kopi nusantara sumatera. Untuk sobat pecinta kopi yang ingin
mencicipi rasa kopi yang berbeda, ada baiknya sobat mencoba kopi kintamani ini.
2.1.4. Kopi Sulawesi
Jenis
kopi yang paling terkenal di Sulawesi
adalah Kopi Toraja. Tanah toraja adalah daerah yang di berkahi memiliki tanah
subur dengan menghasilkan kopi yang berkualitas yang tidak kalah baik dengan
kopi nusantara di daerah lain. Ciri khas dari kopi toraja adalah cita rasanya
yang memiliki rasa yang kuat serta kadar asam yang sangat tinggi.
Meskipun
memiliki rasa yang hampir mirip dengan jenis kopi sumatera namun aroma dari
kopi toraja memiliki ciri khas tersendiri. Ukuran biji kopi sendiri, toraja
memiliki bentuk biji yang lebih kecil, lebih mengkilap dan lebih licin pada
kulitnya. Untuk penikmat kopi, belum afdol deh kalo belum menikmati jenis kopi
nusantara yang satu ini.
2.1.5. Kopi Jawa
Jenis
kopi selanjutnya datang dari pulau Jawa. Jenis kopi jawa ini juga memiliki rasa
yang jelas berbeda dari jenis kopi kopi lainnya. Aroma rempah yang terdapat di
dalam biji kopi jawa lahir secara alami dan menjadikan kopi jenis ini laris di
nikmati oleh masyarakat umum. Meskipun dari segi rasa dan aroma kopi jawa tidak
sekuat kopi Sumatra dan Sulawesi, namun
kopi jawa memiliki penikmat kopi tersendiri sebab ciri khas aroma rempah yang
melekat di dalam biji kopi sungguh terasa.
2.1.6. Kopi Flores
Jenis
kopi dari Flores ini yang tidak kalah populer adalah kopi flores Bajawa. Kopi
ini banyak di hasilkan di daerah Kabupaten Ngada. Sama hal nya dengan kopi bali
kintamani jenis kopi flores bajawa memiliki sedikit aroma buah di setiap biji
kopinya, dan rasa khas tembakau merupakan sebuah keunikan yang mungkin tidak
terdapat di semua jenis kopi di nusantara maupun dunia.
2.1.7. Kopi Wamena Papua
Jenis
kopi yang terakhir adalah Kopi Wamena Papua.
Kopi dari Indonesia bagian timur ini sangat bagus dan dapat tumbuh
secara optimal apabila di tanam pada daerah yang memiliki ketinggian mencapai
1200 meter di atas permukaan laut. Kopi papua wamena yang di tanam pada ketinggian
tersebut memiliki citras rasa yang sangat tajam dan nikmat.
Hal
yang paling menarik dari kopi papua wamena adalah dengan kopi yang di tanam
secara organik tanpa campur tangan bahan bahan kimia. Seperti jenis kopi
nusantara bali kintamani, kopi ini memiliki cita rasa yang begitu lembut dan
nyaris tanpa ampas.
2.2. Kopi Robusta
Kopi robusta pertama kali ditemukan
di Kongo pada tahun 1898. Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran
terhadap ketinggian lahan budidaya. Buididaya jenis kopi ini sangat cocok
dilakukan didataran rendah dimana kopi arabika rentan terhadap serangan
penyakit HV. Dahulu setelah ada serangan penyakit HV yang masif, pemerintah
kolonial mereplanting tanaman kopi arabika dengan kopi robusta.
Kopi
Robusta digolongkan lebih rendah mutu citarasanya dibandingkan dengan citarasa
kopi arabika. Kopi robusta memiliki rasa yang lebih pahit, sedikit asam, dan
mengandung kadar kafein yang jauh lebih banyak. Hampir seluruh produksi kopi
robusta di seluruh dunia dihasilkan secara kering dan untuk mendapatkan rasa
lugas (neutral taste) tidak boleh mengandung rasa-rasa asam dari hasil
fermentasi. Kopi Robusta memiliki kelebihan-kelebihan yaitu kekentalan yang
lebih dan warna yang kuat. Oleh karena itu, kopi Robusta banyak diperlukan
untuk bahan campuran blends untuk merek-merek tertentu (Siswoputranto, 1992).
Jenis kopi ini tumbuh baik pada
ketinggian 400-800 m dpl dengan suhu 21-24oC. Cakupan pertumbuhan
tanaman ini lebih luas daripada kopi arabika yang harus dibudidayakan pada
ketinggian tertentu.Kopi robusta dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 800 m
di atas permukaan laut. Selain itu, kopi jenis ini lebih resisten terhadap
serangan hama dan penyakit. Hal ini menjadikan tanaman ini lebih murah harganya
dan tidak sulit untuk didapat.
Jenis kopi robusta lebih cepat
berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar 2,5 tahun robusta sudah mulai
bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal. Produktivitas robusta secara
rata-rata lebih tinggi dibanding arabika yakni sekitar 900-1.300 kg/ha/tahun.
Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan hingga 2000
kg/ha/tahun.
Untuk berbuah dengan baik, jenis
kopi robusta memerlukan waktu panas selama 3-4 bulan dalam setahun dengan
beberapa kali hujan. Buah robusta bentuknya membulat dan warna merahnya
cenderung gelap. Buah robusta menempel kuat di tangkainya meski sudah matang.
Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%.
Varietas
kopi Robusta yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.2.1. Kopi Lanang
Kopi
Lanang berasal dari Bayuwangi, Jawa Timur, dapat tumbuh di suhu 20-30oC
pada ketinggian 1800 mdpl. Dinamakan Kopi Lanang karena bentuk biji kopi yang
tunggal, bulat dan tidak berbelah seperti biji kopi umumnnya.
Kopi
Lanang bisa dihasilkan dari jenis Kopi Robusta dan Kopi Arabika. Untuk aroma dan rasa kopi ini, lebih kuat
dibandingkan kopi biasa karena mengandung banyak senyawa Tribulus Terrestris
yang merupakan suplemen herbal populer yang mampu meningkatkan kadar
testosteron, gairah seks dan dehydroepiandrosterone (DHEA). Dengan kandungan
seperti diatas, kopi ini dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria dan
kandungan kafein 2.1%, nilai jual kopi ini lebih tnggi daripada kopi pada
umumnya..
2.3. Kopi Liberika
Kopi Liberika berasal dari Angola
dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah cukup lama
penyebarannya, tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas
buah yang kurang bagus dan rendemennya rendah (Najiyati dan Danarti, 1997).
Kopi liberika dikenal kurang
ekonomis dan komersial dikarenakan memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran
biji serta kualitas cita rasanya. Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah
dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang
kecil bercampur dalam satu dompol. Untuk menyeleksi jenis kopi liberika masih
mungkin dilakukan untuk membuktikan nilai ekonomis dan komersialnya agar
dikenal masyarakat luas. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah
yakni sekitar 12%. Hal ini yang membuat para petani malas menanam jenis kopi
ini.
Kopi liberika (Coffea liberica) bisa
tumbuh dengan baik didataran rendah dimana robusta dan arabika tidak bisa
tumbuh. Tanaman kopi ini tumbuh sangat subur di daerah kelembaban tinggi dan
daerah cuaca panas. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit HV dibanding
jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika. Ukuran
daun, percabangan dan tinggi pohon jenis kopi liberika lebih besar dari arabika
dan robusta.
Produtivitas jenis kopi liberika ada
pada kisaran 400-500 kg/ha/tahun. Liberika dapat berbunga sepanjang tahun dan
cabang primernya dapat bertahan lebih lama. Dalam satu buku bisa berbunga lebih
dari satu kali. Di Indonesia, jenis kopi ini ditanam di daerah Jawa dan
Lampung.
Varietas
kopi Liberika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.3.1. Kopi Jambi
Kopi
ini memiliki bentuk daun, bunga, dan buah kopi yang lebih besar daripada
robusta dan arabika. Dalam satu buku pada cabang tanaman bisa tumbuh bunga dan
buah sebanyak lebih dari sekali. Kopi ini juga dapat tumbuh baik di dataran
rendah sampai dataran tinggi dengan produksi buah sepanjang tahun. Kopi Jambi
rentan sekali terhadap serangan penyakit HV. Kualitas buahnya pun tergolong
rendah karena mempunyai ukuran yang tidak seragam. Selain itu, tingkat produksi
kopi liberika juga tergolong sedang.
2.3.2. Kopi Bengkulu
Tanah
Bengkulu sangat subur, sehingga sangat baik untuk hasil perkebunan, terutama
kopi. Di Bengkulu terdapat tradisi meminum kopi pada saat diadakan pesta-pesta
adat yang berasal dari kebun para masing-masing anggota keluarga. Aroma Kopi
Bengkulu agak berbau cokla dan rasanya juga lezat. Rasa dan aromanya yang unik
membuat kopi Bengkulu kini semakin digemari oleh para pecinta kopi.
2.4. Kopi Ekselsa
Kopi ekselsa dapat tumbuh di daerah
panas serta agak kering. Kopi ini umumnya ditanam dengan tingkat perawatan yang
sederhana dan tanpa dipangkas. Penanganan yang diperlukan dalam budidaya kopi
ini adalah memperbaiki kualitas cita rasa kopi.Caranya dengan seleksi dan
persilangan untuk mendapatkan kopi ekselsa yang memiliki nilai jual tinggi.
Kopi excelsa (Coffea excelsa)
merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran terhadap ketinggian lahan.
Kopi ini bisa tumbuh dengan baik didataran rendah mulai 0-750 meter dpl. Selain
itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Pohon kopi
excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan lebar dengan
warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah oleh
tangan. Kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800-1.200 kg/ha/tahun.
Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di
Indonesia, excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat,
Jambi.
DAFTAR PUSTAKA
Agus. 2009. Sejarah Kopi di Dunia dan
Indonesia. http://oleng87.blogspot.co.id/2009/05/sejarah-kopi-di-dunia-dan-indonesia.html
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2009. Mengenal jenis-jenis kopi
budidaya. http://bp4k.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2016/11/Mengenal-jeni-jenis-kopi.pdf
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2017. Jenis Kopi Indonesia. http://kipphtom.blogspot.co.id/2017/01/jenis-kopi-indonesia.html
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Esterina. S. 2017. Kopi Arabika, Kopi
Liberika, Dan Kopi Robusta. http://fpertanianunasshellaesterina.blogspot.co.id/2017/04/budidaya-tanaman-perkebunan.html
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/25102/Chapter%20II.pdf?sequence=4
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/54232/Chapter%20II.pdf;jsessionid=8E03EFFDA6DFA7EBD44970BE9211DA25?sequence=3
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2012-1-01283-DS%20Bab2001.pdf
(Diakses pada tanggal 17 April 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar