Social Icons

Senin, 24 April 2017

Budidaya Kelapa Sawit

TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

“BUDIDAYA KELAPA SAWIT”


Disusun Oleh:
Nama                : Dewi Zaenati
NPM                 : 143112500150022

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017


Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tanaman perkebunan penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Diperkirakan pada tahun 2009, Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada dan intensifikas.
Pelaku usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari perusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan negara dan perkebunan rakyat. Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan umum yang dihadapi antara lain rendahnya produktivitas dan mutu produksinya.
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut adalah karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari pembibitan sampai dengan panennya. Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, akan berpotensi untuk peningkatan produksi kelapa sawit.

1.         Syarat Tumbuh
            Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm, temperatur optimal 24-28o C. Ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara 1-500 m dpl (di atas permukaan laut). Kelembaban optimum yang ideal untuk tanaman sawit sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
            Tingkat keasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5,0- 5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15o .

2.         Teknologi Budidaya
2.1.      Bahan Tanam
            Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibedakan menjadi Dura, Pisifera dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap dapat memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28%.

2.2.      Pembibitan pendahuluan (Pre Nursery)
            Pembibitan pendahuluan dapat dilakukan menanam kecambah di atas bedengan atau di dalam kantong plastik kecil. Penggunaan bedengan tidak dianjurkan karena pemeliharaan lebih sulit dan seleksi bibit tidak bisa intensif serta banyak bibit yang rusak pada saat pemindahan ke kantong plastik besar.
2.2.1.   Persiapan untuk pembibitan pendahuluan:
a.       Bedengan dibuat dengan cara meninggikan permukaan tanah atau membuat parit drainase pembatas selebar 50 cm dan dalam 15 – 20 cm sedemikian rupa sehingga terbentuk bedengan berukuran lebar yang dapat memuat 12 kantong plastik dan panjang 10 - 12 m. Dalam Gambar 17 disajikan contoh bedengan untuk menyusun kantong plastik kecil.
b.      Selanjutnya, diberi naungan dengan tiang 2 m dan atap dari pelepah daun kelapa atau kelapa sawit sedemikian rupa hingga intensitas cahaya sekitar 40%. Dapat juga menggunakan paranet yang meloloskan cahaya 40 % tetapi biayanya menjadi mahal.
c.       Siapkan kantong plastik berukuran 15 x 20 cm dengan lobang di bidang alas dan keliling sisi bagian bawah, lalu isi dengan tanah lapisan atas (top soil), kemudian susun rapat di bedengan. Agar kantong plastik tidak rebah, diberi penahan dari papan atau belahan bamboo.
b.      Siram tanah dalam kantong palstik setiap hari selama 2 – 3 hari sebelum penanaman kecambah supaya tanah agak memadat

2.2.2.   Penyemaian
Tahapan pekerjaan dalam penyemaian benih meliputi:
a.       Benih yang sudah berkecambah disemai dalam polybag kecil, kemudian diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
b.      Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 cm x 23 cm atau 15 cm x 23 cm (lay flat).
c.       Polybag diisi dengan 1,5-2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.
d.      Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
e.       Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery).
f.       Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapat menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.
g.      Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha menghasilkan kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.
h.      Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
i.        Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15-30 kg/polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit.
j.        Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x100 cm.

2.2.4.   Pemeliharaan Pembibitan
            Bibit yang telah ditanam di polibag dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, penyiangan, pengawasan dan seleksi, serta pemupukan

2.2.5.   Penyiraman
            Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7-8 mm pada hari yang bersangkutan. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat. Kebutuhan air siraman ± 2 lt/polybag/hari, disesuaikan dengan umur bibit.

2.2.6.   Penyiangan
            Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan, dikored atau disemprot dengan herbisida. Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan, atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.

2.2.7.   Pengawasan dan Seleksi
            Pengawasan bibit dilakukan untuk mengamati pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit. Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery, yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, yakni dengan ciri-ciri;
a.       Bibit tumbuh meninggi dan kaku
b.      Bibit terkulai
c.       Anak daun tidak membelah sempurna
d.      Terkena penyakit
e.       Anak daun tidak sempurna

2.2.8.   Pemupukan
            Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur.

2.3.      Pemindahan Bibit ke Lapangan
            Bibit yang telah berumur 8 bulan dapat dipindahkan ke areal pertanaman, tetapi umumnya bibit dipindah ke lapang pada umur 10-14 bulan. Pemindahan bibit ke lapangan harus diusahakan agar bibit tidak rusak dan polybagnya tidak pecah.


3.         Teknik Penanaman
3.1.      Penentuan Pola Tanam
            Pola tanam kelapa sawit dapat monokultur ataupun tumpangsari.

3.2.      Pengajiran
            Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengan jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur.

3.3.      Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukurannya adalah 50x40x40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan, masingmasing di sebelah Utara dan Selatan lubang.

3.4.      Cara Penanaman
            Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Adapun tahapan penanaman sebagai berikut:
a.       Letakkan bibit yang berasal dari polibag di masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
b.      Siram bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
c.       Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dasar lubang tanam dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gr/lubang.
d.      Buat keratan vertikal pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian dimasukkan ke dalam lubang.
e.       Timbun bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
f.       Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
g.      Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.

3.5.      Pemeliharaan Tanaman
            Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, penanaman tanaman penutup tanah, membentuk piringan (bokoran), pemupukan, dan pemangkasan daun.

3.6.      Penyulaman
            Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik. Penyulaman yang baik dilakukan pada musim hujan. Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman yang disulam yaitu berkisar 10-14 bulan. Banyaknya sulaman sekitar 3-5% setiap hektarnya. Cara penyulaman sama dengan cara menanam bibit.

3.7.      Penanaman Tanaman Penutup Tanah
            Penanaman tanaman kacang-kacangan penutup tanah (LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma.

3.8.      Membentuk Piringan (Bokoran)
            Piringan di sekitar tanaman kelapa sawit harus tetap bersih. Oleh karena itu tanah di sekitar pokok dengan jari-jari 1-2 m dari tanaman harus selalu bersih dan gulma yang tumbuh harus dibabat, atau disemprot dengan herbisida.


3.9.      Pemupukan
            Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk N, P, K, Mg dan B (Urea, TSP, KCl, Kiserit dan Borax). Pemupukan tambahan dengan pupuk Borax pada tanaman muda sangat penting, karena kekurangan Borax (Boron deficiency) yang berat dapat mematikan tanaman kelapa sawit.

3.10.    Pemangkasan Daun
            Pemangkasan daun bertujuan untuk memperoleh pohon yang bersih dengan jumlah daun yang optimal dalam satu pohon serta memudahkan pamanenan. Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur/tingkat pertumbuhan tanaman. Macam-macam pemangkasan:
a.       Pemangkasan pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang berumur 16-20 bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buahbuah pertama yang busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan tajam yang disebut dodos.
b.      Pemangkasan produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 20-28 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah- buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos seperti pada pemangkasan pasir.
c.       Pemangkasan pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus sependek mungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.

3.11.    Pengendalian Gulma
            Pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air dan cahaya. Selain itu pengendalian gulma juga bertujuan untuk mempermudah kegiatan panen.

3.12.    Pengendalian Hama dan Penyakit
            Tanaman kelapa sawit tergolong tanaman kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman sawit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus.

4.         Panen
            Tanaman kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen.
Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh (brondolan) dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Disamping itu ada kriteria lain tandan buah yang dapat dipanen apabila tanaman berumur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan yang jatuh kurang lebih 10 butir, jika tanaman berumur lebih dari 10 tahun, jumlah brondolan yang jatuh sekitar 15-20 butir.



DAFTAR PUSTAKA
Balai Besar Pengkajian dan pengembangan 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/publikasi/sawit.pdf   ( Diakses pada Tanggal 24 April 2017)
Syakir. M. 2010. Perkebunan Budidaya Kelapa Sawit. http://perkebunan .litbang.pertanian.go.id/wp-content/up loads/2011/01/perkebunan_budida ya_sawit.pdf  ( Diakses pada Tanggal 24 April 2017)



Senin, 17 April 2017

Sejarah dan Jenis- Jenis Kopi

TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN


‘SEJARAH DAN JENIS- JENIS KOPI’


Disusun Oleh:
                                                          Nama              : Dewi Zaenati
                                                          NPM               : 143112500150022

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017

1.         Sejarah Kopi Di Dunia
            Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.
Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.


2.         Sejarah Kopi Di Indonesia
Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil produksi. Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi.
Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan sebagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Timor dan Flores. Pada permulaan abad ke-20 perkebunan kopi di Indonesia mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan untuk mencoba menggantinya dengan jenis kopi yang lebih kuat terhadap serangan penyakit yaitu kopi Liberika dan Ekselsa. Namun didaerah Timor dan Flores yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama meskipun jenis kopi yang dibudidayakan disana juga kopi Arabica.
Pemerintah Belanda kemudian menanam kopi Liberika untuk menanggulangi hama tersebut. Varietas ini tidak begitu lama populer dan juga terserang hama. Kopi Liberika masih dapat ditemui di pulau Jawa, walau jarang ditanam sebagai bahan produksi komersial. Biji kopi Liberika sedikit lebih besar dari biji kopi Arabika dan kopi Robusta. sebenarnya, perkebunan kopi ini tidak terserang hama, namun ada revolusi perkebunan dimana buruh perkebunan kopi menebang seluruh perkebunan kopi di Jawa pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Robusta menggantikan kopi Liberika. Walaupun ini bukan kopi yang khas bagi Indonesia, kopi ini menjadi bahan ekspor yang penting di Indonesia.
Bencana alam, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan - semuanya mempunyai peranan penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk mempermudah perdagangan kopi. Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi Arabika. Kopi Arabika juga banyak diproduksi di kebun-kebun seperti (Kayumas, Belawan, Kalisat/Jampit) di Bondowoso, Jawa Timur. Sedangkan kopi Robusta di Jawa Timur, banyak diproduksi dari kebun - kebun seperti Ngrangkah Pawon (Kediri), Bangelan (Malang), Malangsari, Kaliselogiri (Banyuwangi). Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Kopi Robusta tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi Arabika tumbuh di daerah tinggi.
Setelah kemerdekaan banyak perkebunan kopi yang ditinggalkan kemudian diambil alih oleh pemerintah yang baru. Saat ini sekitar 92% produksi kopi berada digarap petani-petani kecil atau koperasi.

2.         Jenis- Jenis Kopi Di indonesia
            Tanaman kopi menjadi salah satu hasil perkebunan yang sangat menguntungkan di berbagai negara, khususnya negara penghasil kopi seperti Brazil, kolombia, dan Indonesia. Dan tanaman kopi yang dihasilkan tidak sama di setiap negara. Kopi akan tumbuh dengan sangat baik, jika letak ketinggian daerah perkebunannya, dan iklim cuaca di daerah tersebut sesuai.


Adapun jenis jenis dari tanaman kopi tersebut adalah sebagai berikut.
2.1.      Kopi Arabika
            Kopi Arabika adalah kopi yang paling baik mutu cita rasanya, tanda-tandanya ialah biji picak dan daun yang hijau-tua dan berombak-ombak. Pertama kali kopi Arabika diperkenalkan oleh Linnaeus pada tahun 1753, tanaman ini tidak tahan terhadap hama dan penyakit, banyak terdapat di Amerika Latin, Afrika Tengah dan Timur, India dan beberapa terdapat di Indonesia (Clifford dan Willson, 1985).
Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Sebagian besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis ini. Aslinya kopi ini berasal dari Ethiopia dan sekarang mulai di budidayakan di berbagai belahan dunia mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia. Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau subtropis. Kopi Arabika tumbuh pada ketinggian 600-2000 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 3 meter bila kondisi lingkungannya baik. Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26 oC.. Kopi arabika memiliki kualitas cita rasa tinggi dan kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan dengan kopi robusta, sehingga harganya lebih mahal.
            Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, kopi arabika membutuhkan bulan kering sekitar 3 bulan/tahun. Arabika mulai bisa dipanen setelah berumur 4 tahun. Dengan produktivitas rata-rata sekitar 350-400 kg/ha/tahun. Namun bila dipelihara secara intensif bisa menghasilkan hingga 1500-2000 kg/ha/tahun.
            Biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap. Apabila telah matang, buah arabika berwarna merah terang. Buah yang telah matang mudah sekali rontok, jika dibiarkan buah tersebut akan menyerap bau-bauan yang ada ditanah sehingga mutunya turun. Arabika sebaiknya dipanen sebelum buah rontok ke tanah. Rendemen atau prosentase antara buah yang panen dengan biji kopi (green bean) yang dihasilkan sekitar 18- 20%. Para petani kopi arabika biasa mengolah buah kopi dengan proses basah. Meski memerlukan biaya dan waktu lebih lama, tapi mutu biji kopi yang dihasilkan jauh lebih baik.
Varietas kopi arabika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.1.1.   Kopi Aceh Gayo 
Jenis kopi di Indonesia yang pertama adalah kopi aceh gayo. Kopi yang berasal dari tanah gayo Aceh tengah ini memiliki cita rasa kopi yang sangat begitu khas. Tidak heran jika kopi ini menjadi unggulan bagi para penikmat kopi di Indonesia. Kopi Aceh Gayo merupakan salah satu kopi arabika yang terbaik di dunia, dan menjadi salah satu penghasil kopi terbesar  di Asia.
Untuk soal rasa, kopi aceh gayo memiliki cita rasa yang sedikit lebih pahit dengan tingkat keasaman rendah, serta aromanya yang sangat tajam menjadikan kopi ini banyak di sukai di banyak kalangan pecinta kopi nusantara.  Meskipun memiliki rasa pahit kopi gayo memiliki aroma yang sangat gurih di setiap tegukannya.
2.1.2.   Kopi Sumatra
Kopi Sumatera merupakan salah satu varietas kopi yang berasal dari Sumatera yang bertekstur paling halus dan bercita rasa paling berat dan kompleks di antara beragam kopi di dunia. Sebagian besar kopi Sumatera diproses secara kering (dry-processed), tetapi sebagian lagi melalui proses pencucian ringan (semi-washed).
Kopi Sumatera sangat terkenal dengan Mandheling atau Lintong-nya yang tumbuh di pesisir selatan pulau Sumatera. Kopi Sumatera yang tumbuh lebih ke arah Barat dikenal sebagai kopi Gunung Gayo. Kopi Gayo Sumatera dideskripsikan sebagai kopi yang bercita rasa manis dan bersih. Ahli kopi yang ingin membeli kopi Sumatera biasanya melihat ketuaan dari biji kopi Sumatera. Biji kopi ini mengeluarkan rasa “tanah” dan “rempah”. Hal ini merupakan keunikan tersendiri biji kopi Sumatera sehingga membuatnya menjadi satu dari kopi yang paling dicari di antara jenis kopi yang ada di dunia.2.
2.1.3.   Kopi Bali Kintamani
Seperti namanya kopi tersebut berasal dari daerah kintamani bali. Kopi kintamani memiliki keunikan cita rasa yang berbeda dari jenis kopi nusantara yaitu dengan memiliki cita rasa buah buahan yang segar dan asam. Hal itu di karenakan di daerah kintamani masyarakat setempat menanam kopi bersamaan dengan tanaman lain seperti buah dan sayur seperti buah jeruk.
Jenis kopi kintamani memiliki rasa ciri khas buah sebab tanaman kopi yang berada di daerah kintamani meresap rasa buah buahan seperti jeruk dan lain sebagainya. Selain itu kopi Kintamani ini memiliki cita rasa yang lembut dan tidak berat seperti jenis kopi nusantara sumatera. Untuk sobat pecinta kopi yang ingin mencicipi rasa kopi yang berbeda, ada baiknya sobat mencoba kopi kintamani ini.
2.1.4.   Kopi Sulawesi
Jenis kopi yang paling terkenal  di Sulawesi adalah Kopi Toraja. Tanah toraja adalah daerah yang di berkahi memiliki tanah subur dengan menghasilkan kopi yang berkualitas yang tidak kalah baik dengan kopi nusantara di daerah lain. Ciri khas dari kopi toraja adalah cita rasanya yang memiliki rasa yang kuat serta kadar asam yang sangat tinggi.
Meskipun memiliki rasa yang hampir mirip dengan jenis kopi sumatera namun aroma dari kopi toraja memiliki ciri khas tersendiri. Ukuran biji kopi sendiri, toraja memiliki bentuk biji yang lebih kecil, lebih mengkilap dan lebih licin pada kulitnya. Untuk penikmat kopi, belum afdol deh kalo belum menikmati jenis kopi nusantara yang satu ini.
2.1.5.   Kopi Jawa
Jenis kopi selanjutnya datang dari pulau Jawa. Jenis kopi jawa ini juga memiliki rasa yang jelas berbeda dari jenis kopi kopi lainnya. Aroma rempah yang terdapat di dalam biji kopi jawa lahir secara alami dan menjadikan kopi jenis ini laris di nikmati oleh masyarakat umum. Meskipun dari segi rasa dan aroma kopi jawa tidak sekuat kopi Sumatra dan Sulawesi,  namun kopi jawa memiliki penikmat kopi tersendiri sebab ciri khas aroma rempah yang melekat di dalam biji kopi sungguh terasa.
2.1.6.   Kopi Flores
Jenis kopi dari Flores ini yang tidak kalah populer adalah kopi flores Bajawa. Kopi ini banyak di hasilkan di daerah Kabupaten Ngada. Sama hal nya dengan kopi bali kintamani jenis kopi flores bajawa memiliki sedikit aroma buah di setiap biji kopinya, dan rasa khas tembakau merupakan sebuah keunikan yang mungkin tidak terdapat di semua jenis kopi di nusantara maupun dunia.
2.1.7.   Kopi Wamena Papua
Jenis kopi yang terakhir adalah Kopi Wamena Papua.  Kopi dari Indonesia bagian timur ini sangat bagus dan dapat tumbuh secara optimal apabila di tanam pada daerah yang memiliki ketinggian mencapai 1200 meter di atas permukaan laut. Kopi papua wamena yang di tanam pada ketinggian tersebut memiliki citras rasa yang sangat tajam dan nikmat.
Hal yang paling menarik dari kopi papua wamena adalah dengan kopi yang di tanam secara organik tanpa campur tangan bahan bahan kimia. Seperti jenis kopi nusantara bali kintamani, kopi ini memiliki cita rasa yang begitu lembut dan nyaris tanpa ampas.

2.2.      Kopi Robusta
            Kopi robusta pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1898. Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran terhadap ketinggian lahan budidaya. Buididaya jenis kopi ini sangat cocok dilakukan didataran rendah dimana kopi arabika rentan terhadap serangan penyakit HV. Dahulu setelah ada serangan penyakit HV yang masif, pemerintah kolonial mereplanting tanaman kopi arabika dengan kopi robusta.
Kopi Robusta digolongkan lebih rendah mutu citarasanya dibandingkan dengan citarasa kopi arabika. Kopi robusta memiliki rasa yang lebih pahit, sedikit asam, dan mengandung kadar kafein yang jauh lebih banyak. Hampir seluruh produksi kopi robusta di seluruh dunia dihasilkan secara kering dan untuk mendapatkan rasa lugas (neutral taste) tidak boleh mengandung rasa-rasa asam dari hasil fermentasi. Kopi Robusta memiliki kelebihan-kelebihan yaitu kekentalan yang lebih dan warna yang kuat. Oleh karena itu, kopi Robusta banyak diperlukan untuk bahan campuran blends untuk merek-merek tertentu (Siswoputranto, 1992).
            Jenis kopi ini tumbuh baik pada ketinggian 400-800 m dpl dengan suhu 21-24oC. Cakupan pertumbuhan tanaman ini lebih luas daripada kopi arabika yang harus dibudidayakan pada ketinggian tertentu.Kopi robusta dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Selain itu, kopi jenis ini lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit. Hal ini menjadikan tanaman ini lebih murah harganya dan tidak sulit untuk didapat.
            Jenis kopi robusta lebih cepat berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar 2,5 tahun robusta sudah mulai bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal. Produktivitas robusta secara rata-rata lebih tinggi dibanding arabika yakni sekitar 900-1.300 kg/ha/tahun. Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan hingga 2000 kg/ha/tahun.
            Untuk berbuah dengan baik, jenis kopi robusta memerlukan waktu panas selama 3-4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali hujan. Buah robusta bentuknya membulat dan warna merahnya cenderung gelap. Buah robusta menempel kuat di tangkainya meski sudah matang. Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%.
Varietas kopi Robusta yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.2.1.   Kopi Lanang
Kopi Lanang berasal dari Bayuwangi, Jawa Timur, dapat tumbuh di suhu 20-30oC pada ketinggian 1800 mdpl. Dinamakan Kopi Lanang karena bentuk biji kopi yang tunggal, bulat dan tidak berbelah seperti biji kopi umumnnya.
Kopi Lanang bisa dihasilkan dari jenis Kopi Robusta dan Kopi Arabika.  Untuk aroma dan rasa kopi ini, lebih kuat dibandingkan kopi biasa karena mengandung banyak senyawa Tribulus Terrestris yang merupakan suplemen herbal populer yang mampu meningkatkan kadar testosteron, gairah seks dan dehydroepiandrosterone (DHEA). Dengan kandungan seperti diatas, kopi ini dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria dan kandungan kafein 2.1%, nilai jual kopi ini lebih tnggi daripada kopi pada umumnya..
2.3.      Kopi Liberika
            Kopi Liberika berasal dari Angola dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah cukup lama penyebarannya, tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah yang kurang bagus dan rendemennya rendah (Najiyati dan Danarti, 1997).
            Kopi liberika dikenal kurang ekonomis dan komersial dikarenakan memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran biji serta kualitas cita rasanya. Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu dompol. Untuk menyeleksi jenis kopi liberika masih mungkin dilakukan untuk membuktikan nilai ekonomis dan komersialnya agar dikenal masyarakat luas. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12%. Hal ini yang membuat para petani malas menanam jenis kopi ini.
            Kopi liberika (Coffea liberica) bisa tumbuh dengan baik didataran rendah dimana robusta dan arabika tidak bisa tumbuh. Tanaman kopi ini tumbuh sangat subur di daerah kelembaban tinggi dan daerah cuaca panas. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit HV dibanding jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika. Ukuran daun, percabangan dan tinggi pohon jenis kopi liberika lebih besar dari arabika dan robusta.
            Produtivitas jenis kopi liberika ada pada kisaran 400-500 kg/ha/tahun. Liberika dapat berbunga sepanjang tahun dan cabang primernya dapat bertahan lebih lama. Dalam satu buku bisa berbunga lebih dari satu kali. Di Indonesia, jenis kopi ini ditanam di daerah Jawa dan Lampung.
Varietas kopi Liberika yang ada di Indonesia sebagai berikut:
2.3.1.   Kopi Jambi
Kopi ini memiliki bentuk daun, bunga, dan buah kopi yang lebih besar daripada robusta dan arabika. Dalam satu buku pada cabang tanaman bisa tumbuh bunga dan buah sebanyak lebih dari sekali. Kopi ini juga dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan produksi buah sepanjang tahun. Kopi Jambi rentan sekali terhadap serangan penyakit HV. Kualitas buahnya pun tergolong rendah karena mempunyai ukuran yang tidak seragam. Selain itu, tingkat produksi kopi liberika juga tergolong sedang.
2.3.2.   Kopi Bengkulu
Tanah Bengkulu sangat subur, sehingga sangat baik untuk hasil perkebunan, terutama kopi. Di Bengkulu terdapat tradisi meminum kopi pada saat diadakan pesta-pesta adat yang berasal dari kebun para masing-masing anggota keluarga. Aroma Kopi Bengkulu agak berbau cokla dan rasanya juga lezat. Rasa dan aromanya yang unik membuat kopi Bengkulu kini semakin digemari oleh para pecinta kopi.

2.4.      Kopi Ekselsa
            Kopi ekselsa dapat tumbuh di daerah panas serta agak kering. Kopi ini umumnya ditanam dengan tingkat perawatan yang sederhana dan tanpa dipangkas. Penanganan yang diperlukan dalam budidaya kopi ini adalah memperbaiki kualitas cita rasa kopi.Caranya dengan seleksi dan persilangan untuk mendapatkan kopi ekselsa yang memiliki nilai jual tinggi.
            Kopi excelsa (Coffea excelsa) merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran terhadap ketinggian lahan. Kopi ini bisa tumbuh dengan baik didataran rendah mulai 0-750 meter dpl. Selain itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Pohon kopi excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan lebar dengan warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah oleh tangan. Kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800-1.200 kg/ha/tahun. Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di Indonesia, excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi.


DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2009. Sejarah Kopi di Dunia dan Indonesia. http://oleng87.blogspot.co.id/2009/05/sejarah-kopi-di-dunia-dan-indonesia.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2009. Mengenal jenis-jenis kopi budidaya. http://bp4k.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2016/11/Mengenal-jeni-jenis-kopi.pdf (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Anonim. 2017. Jenis Kopi Indonesia. http://kipphtom.blogspot.co.id/2017/01/jenis-kopi-indonesia.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
Esterina. S. 2017. Kopi Arabika, Kopi Liberika, Dan Kopi Robusta. http://fpertanianunasshellaesterina.blogspot.co.id/2017/04/budidaya-tanaman-perkebunan.html (Diakses pada tanggal 17 April 2017)
 
Blogger Templates