TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
‘PENGOLAHAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT’
Disusun Oleh:
Nama : Dewi Zaenati
NPM : 143112500150022
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dari famili
Arecaceae merupakan salah satu sumber minyak nabati yang dapat diandalkan dan
merupakan komoditi perkebunan. Potensi kelapa sawit di Indonesia cukup besar.
Data tahun 2010 menunjukkan bahwa
potensi kelapa sawit berdasarkan luas perkebunannya mencapai 8 385 394
hektar dengan total produksi minyak mencapai 21 958 120 ton. Untuk tahun 2012
ini diperkirakan luas areal kelapa sawit akan mencapai 9 271 039 dengan total
produksi minyak 23 633 412 ton (Direktorat Jendral Perkebunan 2011).
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk
buah setelah umur 2 - 3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5 - 6 bulan
setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari
perubahan warna kulit buahnya. Buah akan berubah menjadi merah jingga ketika
masak. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada daging buah telah maksimal.
Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai
tandannya. Buah yang jatuh tersebut disebut membrondol (Fauzi et al. 2008)
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat
membantu agar dapat memotong buah pada saat yang tepat di masa panen. Kriteria
matang panen ditentukan ketika kandungan minyak maksimal dan kandungan asam
lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal. Pada saat ini,
kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah brondolan, yaitu
tanaman berumur kurang dari 10 tahun dengan jumlah brondolan kurang lebih 10
butir dan tanaman berumur lebih dari 10 tahun dengan jumlah brondolan sekitar
15-20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1
kg tandan buah segar (TBS) terdapat 2
1. Pemanenan Kelapa Sawit
1.2. Panen
Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting
pada pengelolaan tanaman kelapa sawit. Selain bahan tanaman dan pemeliharaan
tanaman, panen juga merupakan faktor penting dalam pencapaian produksi. Panen
adalah kegiatan pemotongan tandan buah dari pohon hingga pengangkutan ke PKS
(Fadli et al. 2006). Menurut Fauzi et al. (2012), pelaksanaan panen tidak
secara sembarang, perlu memperhatikan beberapa kriteria tertentu sebab tujuan
panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan
kualitas minyak yang baik. Menurut Fadli et al. (2006), keberhasilan panen
didukung oleh pengetahuan pemanen seperti: persiapan panen, kriteria matang
panen, cara panen, rotasi panen dan sistem panen serta sarana panen.
Keseluruhan faktor ini saling bersinergi yang tak terpisahkan satu dengan yang
lain.
1.3. Persiapan panen
Menurut Pahan (2013), persiapan panen yang baik akan
menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam mempersiapkan pelaksanaan panen adalah
persiapan kondisi areal, penyediaan tenaga panen, pembagian seksi atau kapveld
panen dan penyediaan alat-alat kerja. Kriteria matang panen. Kriteria matang
panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar memotong buah pada
saat yang tepat. Parameter yang digunakan dalam menentukan kriteria matang
panen adalah perubahan warna dan brondolan yang lepas dari tandan. Kriteria
umum yang banyak digunakan adalah brondolan yang lepas dari tandan, yaitu 2
brondolan kg-1 untuk tandan yang memiliki berat >10 kg dan 1 brondolan kg-1
untuk tandan yang memiliki berat ≤10 kg (Fadli et al. 2006). Menurut Lubis
(2008), tingkat kematangan tandan buah atau dikenal sebagai fraksi ditentukan
berdasarkan kriteria jumlah brondolan lepas.
1.4. Cara panen
Ada tiga cara panen berdasarkan tinggi tanaman. Cara
panen jongkok digunakan untuk pohon setinggi 2-5 m dengan alat dodos. Cara
panen berdiri digunakan untuk pohon setinggi 5-10 m dengan alat kampak siam.
Cara panen egrek digunakan untuk pohon lebih tinggi dari 10 m dengan alat egrek
(Sunarko 2007). Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang
menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan
mati. Tandan buah yang matang dipotong dan tangkainya dipotong rapat ke tandan
dengan panjang maksimal 2 cm. Brondolan dikumpulkan terpisah dari tandan. Brondolan
harus bersih dan tidak tercampur dengan tanah atau kotoran lain. TBS dan
brondolan dikumpulkan di TPH (Fauzi et al. 2012).
1.5. Rotasi dan sistem ancak panen
Rotasi panen adalah lamanya waktu yang diperlukan
antara panen terakhir dengan panen berikutnya pada ancak panen yang sama.
Rotasi panen yang sesuai dengan perkembangan buah adalah 7 hari (Fadli et al.
2006). Menurut Fauzi et al. (2012), ada dua sistem ancak panen, yaitu sistem
giring dan sistem tetap. Sistem giring adalah perpindahan pemanen dari satu
ancak ke ancak berikutnya apabila suatu ancak panen telah selesai dipanen.
Sistem tetap adalah pemanen diberikan ancak dengan luasan tertentu dan tidak
berpindah-pindah
1.6. Sarana panen
Sarana panen yang memadai akan membantu memperlancar
kegiatan panen. TBS yang telah dipanen harus segera diangkut ke PKS untuk
diolah, maksimal 8 jam setelah panen harus segera diolah. Buah yang tidak
segera diolah akan mengalami kerusakan. Pemilihan sarana panen berupa alat
angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan.
Alat angkut yang dapat digunakan diantaranya lori, traktor gandengan atau truk.
Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkut lain
(Fauzi et al. 2012). Selain alat angkut buah ke PKS, alatalat lainnya dalam
pemanenan seperti: dodos, kampak siam, egrek dan angkong harus tersedia dengan
kualitas yang baik demi kelancaran proses pemanenan.
2. Pasca Panen Dan Standar Produksi Kelapa
Sawit
Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah
minyak sawit yang diperoleh dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain
yang tidak kalah pentingnya adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga
diperoleh dengan cara ekstraksi.
Pertama tandan buah diletakkan di piringan. Buah
yang lepas disatukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke
Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur
berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk
segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi.
Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen.
Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin
pelepas buah, dilumatkan di dalam digester, dipres dengan mesin untuk
mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan
untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti
(kernel) terpisah dari cangkangnya. Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit
adalah sebagai berikut:
a. Perebusan (sterilisasi) TBS
TBS yang masuk ke dalam pabrik selanjutnya direbus
di dalam sterilizer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130 derajat
C selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah:
·
Menonaktifkan
enzim Lipase yang dapat menstimulir pembentukan free fatty acid
·
Membekukan
protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari air
·
Mempermudah
perontokan buah
·
Melunakkan buah
sehingga mudah diekstraksi
b.
Perontokan Buah
Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dari
tandannya dengan menggunakan mesin thresher. Tandan kosong disalurkan ke tempat
pembakaran atau digunakan sebagai bahan pupuk organik. Sedangkan buah yang
telah dirontokkan selanjutnya dibawa ke mesin pelumatan. Selama proses
perontokan buah, minyak dan kernel yang terbuang sekitar 0.03%.
2.1. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi CPO
Buah yang terpisah akan jatuh melalui
kisi-kisi dan ditampung oleh Fruit elevator dan dibawa dengan Distributing
Conveyor untuk didistribusikan keunit-unit Digester.
Di dalam digester buah diaduk dan dilumat untuk
memudahkan daging buah terpisah dari biji. Digester terdiri dari tabung
silinder yang berdiri tegak yang di dalamnya dipasang pisau-pisau pengaduk
sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada pros dan digerakkan oleh motor listrik.
Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas 90-95 C yang diberikan
dengan cara menginjeksikan uap 3 kg/cm2 langsung atau melalui mantel. Proses
pengadukan/ pelumatan berlangsung selama 30 menit. Setelah massa buah dari
proses pengadukan selesai kemudian dimasukan ke dalam alat pengepresan (screw
press).
Pengepresan berfungsi untuk
memisahkan minyak kasar (crude oil) dari daging buah (pericarp). Massa yang
keluar dari digester diperas dalam screw press pada tekanan 50-60 bar dengan
menggunakan air pembilas screw press suhu 90-95 C sebanyak 7 % TBS (maks) dengan
hasil minyak kasar (crude oil) yang viscositasnya tinggi. Dari pengepresan
tersebut akan diperoleh minyak kasar dan ampas serta biji.
Minyak kasar (crude oil) yang dihasilkan kemudian
disaring menggunakan Vibrating screen. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan
beberapa bahan asing seperti pasir, serabut dan bahan-bahan lain yang masih
mengandung minyak dan dapat dikembalikan ke digester. Vibrating screen terdiri
dari 2 tingkat saringan dengan luas permukaan 2 m2 . Tingkat atas memakai
saringan ukuran 20 mesh, sedangkan tingkat bawah memakai saringan 40 mesh.
Minyak yang telah disaring kemudian ditampung
kedalam Crude Oil Tank (COT). Di dalam COT suhu dipertahankan 90-95°C agar
kualitas minyak yang terbentuk tetap baik.
Tahap selanjutnya minyak dimasukkan kedalam Tanki
Klarifikasi (Clarifier Tank). prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam
tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan
sehingga campuran minyak kasar dapat
terpisah dari air. Pada tahapan ini dihasilkan dua jenis bahan yaitu Crude oil
dan Slude . Minyak kasar yang dihasilkan kemudian ditampung sementara kedalam
Oil Tank. Di dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75-80°C) dengan tujuan
untuk mengurangi kadar air.
Minyak kemudian dimurnikan dalam Purifier, Di dalam
purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air yang
terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan
gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang
memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl),
sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan
keluar melalui sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang
melekat pada dinding di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.
Slude
yang dihasilkan dari Clarifier tank kemudian di alirkan ke dalam Decanter. Di
dalam alat ini terjadi pemisahan antara Light phase, Heavy phase dan Solid.
Light phase yang dihasilkan kemudian akan di alirkan kembali ke dalam crude oil
tank sedangkan Heavy phase akan di tampung dalam bak penampungan (Fat Pit).
Solid atau padatan yang dihasilkan akan diolah menjadi pupuk atau bahan
penimbun.
Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung
air, maka untuk mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum
drier. Di sini minyak disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran
minyak dan air tersebut akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air
dalam minyak, dimana minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air
akan turun ke bawah dan kemudian dialirkan ke storage tank.
Crude Palm Oil yang dihasilkan kemudian dialirkan ke
dalam Storage tank (tangki timbun). Suhu simpan dalam Storage Tank
dipertahankan sntara 45-55°C. hal ini bertujuan agar kualitas CPO yang
dihasilkan tetap terjamin sampai tiba waktunya pengiriman.
2.2. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Menjadi Pko
Palm kernel Oil (PKO) adalah minyak yang dihasilkan
dari inti sawit. Proses awalnya sama seperti pengolahan kelapa sawit menjadi
CPO. Pada pengolahan kelapa sawit menjadi PKO setelah proses pengepresan maka
terjadi pemisahan antara minyak sawit dengan kernel, sabut dan ampasnya.
Biji yang masih bercampur dengan Ampas dan serabut
kemudian diangkut menggunakan Cake breaker conveyor yang dipanaskan dengan uap
air agar sebagian kandungan air dapat diperkecil, sehingga Press Cake terurai
dan memudahkan proses pemisahan menuju depericarper. Pada Depericaper terjadi
proses pemisahan fibre dan biji. Pemisahan terjadi akibat perbedaaan berat dan
gaya isap blower. Biji tertampung pada Nut Silo yang dialiri dengan udara panas
antara 60 – 80°C selama 18- 24 jam agar kadar air turun sekitar 21% menjadi4%.
Sebelum biji masuk ke dalam Nut Craker terlebih
dahulu diproses di dalam Nut Grading Drum untuk dapat dipisahkan ukuran besar
kecilnya biji yang disesuaikan dengan fraksi yang telah ditentukan. Nut
kemudian dialirkan ke Nut Craker sebagai alat pemecah. Masa biji pecah
dimasukkan dalam Dry Seperator (Proses pemisahan debu dan cangkang halus) untuk
memisahkan cangkang halus, biji utuh dengan cangkang/inti. Masa cangkang
bercampur inti dialirkan masuk ke dalam Hydro Cyclone untuk memisahkan antara
inti dengan cangkang dengan menggunakan prinsip perbedaan massa. Cara lain
untuk memisahkan inti dengan cangkang adalah dengan menggunakan Hydro clay bath
yaitu pemisahan dengan memanfaatkan lumpur atau tanah liat. Cangkang yang
terpisah kemudian digunakan sebagai bahan bakar boiler.
Inti
kemudian dialirkan masuk ke dalam Kernel Drier untuk proses pengeringan sampai
kadar airnya mencapai 7 % dengan tingkat pengeringan 50°C, 60°C dan 70°C dalam
waktu 14-16jam. Selanjutnya guna memisahkan kotoran, maka dialirkan melalui
Winnowing Kernel (Kernel Storage), sebelum diangkut dengan truk ke pabrik
pemproses berikutnya.
3. Syarat dan mitu Minyak Kelapa Sawit
Mutu
minyak kelapa sawit yang baik, umumnya memiliki:
a. Kadar air
< 0,1%
b. Kadar kotoran
< 0,01%
c. Kandungan asam lemak bebas, serendah mungkin yaitu < 2%
d. Bilangan peroksida < 2
e. Bebas dari warna merah & kuning, tidak berwarna
hijau, harus berwarna pucat dan jernih.
f. Kandungan logam berat serendah mungkin, bahkan bebas
dari ion logam
Tabel 1. SNI = Standar Nasional
Indonesia Minyak Kelapa Sawit Mentah ( CPO ), SNI 01-2901-2006
No
|
Karakteristik
|
Satuan
|
Syarat
|
1
2
3
4
|
Warna
Kadar air dan kotoran
Asam lemak bebas
(sebagai asam palmitat)
Bilangan Yodium
|
-
%, fraksi
masa
%, fraksi
masa
G Yodium/100
g
|
Jingga
kemerah-merahan
0,5 maks
0,5 maks
50 - 55
|
Tabel
2. Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit (PKO), SNI 0003-1987
No
|
Karakteristik
|
Satuan
|
Syarat
|
1
2
3
|
Asam lemak bebas (sbg asam
laurat)
Kandungan benda asing
Kadar air
|
% ( w/w )
% ( w/w )
% ( w/w )
|
Maks 5,0
Maks 0,005
Maks 0,45
|
No
|
Karakteristik
|
Satuan
|
Syarat
|
1
2
3
4
5
6
7
|
Asam lemak bebas
Kadar air dan kotoran
Bilangan iod
Titik keruh
Titik lunak
Warna
Rasa
|
% ( b/b )
% ( b/b )
-
°C
°C
-
-
|
Maks 0,1
Maks 0,15
Min 55
Maks 10
Maks 24
Merah : maks
3 ; Kuning : maks 30
Normal
|
Deskripsi / Uraian
Standar ini merupakan:
·
Syarat mutu
·
Pengambilan
contoh
·
Cara uji
·
Pengemasan
·
Syarat penandaan
dan rekomendasi minyak kelapa sawit mentah ( Crude Palm Oil – CPO )
Syarat mutu meliputi:
·
Warna yaitu
jingga kemerah-merahan
·
Kadar air
·
Kotoran
·
Asam lemak bebas
( sebagai asam falmitat ) maks 0,5 (%, fraksi masa)
·
Bilangan yodium
50-55 (g yodium / 100g)
Pengambilan contoh diterapkan
untuk:
·
In bulk (
storage tank) dan/ atau
·
Palka kapal
serta mobil tangki ( road tanker)
Pengujian penentuan warna: secara
visual dengan kasat mata
Penetapan kadar air, dilakukan
dengan 2 metode yaitu:
·
Metode pemanasan
dengan oven atau
·
Metode pemanasan
dengan hot plate
Prinsip penghitungan persentase kandungan air adalah
selisih berat contoh sebelum dan sesudah di panaskan
DAFTAR PUSTAKA

tidak ada ilustrasi atau gambar/foto yang menunjang ya?
BalasHapusuntuk laporan dari kunjungan ke balittri mana?
( hanya berupa foto-foto dengan beberapa informasinya, tolong kasih tau teman lainnya)